Rabu, 24 Juli 2013

Baby From The Devil part 4 (CAIK)



Oik, Zevana, Dayat, dan Chika masuk kesebuah rumah yang bergaya eropa, megah dan terlihat sangat kokoh. Inilah rumah baru mereka yang akan mereka tempati bersama. Dayat menjual rumah mereka yang berada di Jakarta Pusat dan pindah ke tempat ini yaitu Jakarta Selatan. Alasan mengapa mereka pindah bukan karena hal lain melainkan takut jika anak satu-satunya itu digunjingkan orang-orang sekitar komplek karena hamil di luar nikah. Dan jika hal itu terjadi bukan Oik saja yang akan merasakan sakit melainkan ia dan Zevana serta cucunya yaitu Chika. Ia tidak ingin disaat-saat anggota keluarganya terkumpul semua seperti ini ada yang membuat hati mereka tidak nyaman. Maka dari itu ia memilih Jakarta Selatan untuk tempat bernaungnya orang-orang yang disayanginya tanpa ada hambatan yang memberati hati mereka.

 
            “Besok kamu sudah bisa bekerja diperusahaan papah” Saat ini Oik dan papahnya sedang berada di ruang keluarga sambil menonton tv. Chika sudah tidur di kamarnya dan mamanya sedang menemani Chika tidur.
            “Ya pah, tapi nanti ajarin sedikit-sedikit cara ngejalanin perusahaan soalnya sistem manajemen perusahaan Indonesia agak sedikit berbeda dengan Jerman. Ya Oik takut aja nanti salah-salah ngejalanin perusahaan”Ucap Oik khawatir.
            “Kamu tenang saja, klien kita orangnya ramah-ramah dan sepertinya nggak ada yang perlu kamu cemaskan”Jelas Dayat. Oik merasa lega mendengar ucapan papahnya itu. Ia merasa gugup karena harus memegang tanggung jawab yang begitu besar dalam menjalankan perusahaan. Walaupun Dayat sudah memeberikan kepercayaan yang penuh untuk anaknya itu tetapi ia harus tetap mengawasinya dari luar ia sebenarnya tahu kalau sebenarnya Oik hanya takut mengecewakan papahnya lagi.
***
            Hari ini Oik mulai bekerja di perusahaan papahnya. Baru saja memasuki ruang kerja barunya tapi ia sudah harus menghadiri pertemuan dengan kliennya untuk membahas program kerja yang akan mereka tampilkan di depan publik. Ternyata perusahaan ini sibuk sekali, fikirnya.
            Dengan sigap Oik berjalan ke arah SUV barunya yang sudah menjadi kendaraan pribadinya. Ia menyalakan SUVnya dan langsung melesat ke perusahaan yang akan dituju, sesuai dengan laporan yang diberikan nama perusahaan tersebut ialah Nuraga Corp.
***
            *Pletak, pletok,pletak,pletok*. Suara langkah kaki dari wanita yang memiliki rambut ikal ini menghiasi koridor lantai 5. Tadi saat di lobby ia disuruh langsung saja menemui pemimpin perusahaan Nuraga yang ia tidak tahu siapa orangnya. Walaupun begitu, ia harus tetap menemui kliennya ini, jika tidak, bisa saja perusahaan papahnya akan mengalami kerugian yang lumayan besar.
            Sesampainya di depan pintu ruang kerja kliennya, ia membaca papan nama yang berada di pintu tersebut “Cakka K. Nuraga”.
Namanya persis Chika. Hanya berbeda beberapa huruf. Oh ya ampun, kenapa tiba-tiba rasanya gue kangen banget sama Chika. Sedang apa kamu nak?
            “Mari saya antar masuk, Cakka sedang ada urusan sebentar jadi Anda disuruh menunggunya di dalam”Ucap seorang lelaki berwajah oriental yang tiba-tiba saja berada di belakang Oik. Lelaki tersebut menyuruh Oik duduk disebuah sofa lalu meninggalkannya.
            Oik memandangi sudut-sudut ruangan itu, dindingnya dicat warna cream. Lemari-lemari yang berada disudut ruangan itu penuh dengan buku-buku laporan. Hening sekali di ruangan itu sampai-sampai Oik bergidik ngeri karena suasananya yang begitu sunyi. Ia mengambil sebuah map yang tadi ia bawa lalu membacanya, sementara ini ia mengisi waktu dengan beberapa bacaan laporan hingga ia mendengar sebuah derapan langkah seseorang yang mulai mendekat. Ia berusaha untuk tidak gugup, ia tetap  pada posisinya semula. Suara pintu mulai dibuka dan ditutup lagi tetapi Oik sama sekali tidak mengubah posisinya, ia semakin gugup karena baru kali ini ia menghadapi seorang klien yang belum pernah ia temui sebelumnya.
            *Ceklek*, Oik mendengar suara pintu yang sepertinya baru saja dikunci. Karena takut ia langsung menutup map yang dipegangnya dan terlonjak berdiri.
            *Duaarrrrrrr, Jedeerrrrrr*, begitulah suara jantung Oik ketika melihat siapa yang sedang berdiri di depannya ini. Mulutnya tetap menganga, matanya bulat dan sepertinya ingin keluar dari kelopaknya. Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga, ingin rasanya ia berlari ke planet yang paling jauh saat ini juga, dan ingin rasanya saat itu juga ia terbangun saja dari mimpinya itu. Tapi sayangnya ini bukanlah mimpi, melainkan ini kenyataan yang harus dihadapinya.
            Lelaki itu tidak menanggapi rasa terkejutnya Oik, ia beranjak dari pintu dan mengampiri Oik yang sedang berdiri di dekat sofa.
            “Hai Oik” Ucap lelaki itu tapi sedetik kemudian dengan cepat ia mengecup bibir Oik, ia mengambil kesempatan ketika mulut Oik yang ternganga untuk memasukkan lidahnya. Selama lima detik mereka berada dalam posisi itu, Oik tidak membalasnya ataupun menolaknya, ia masih terkejut ketika melihat lelaki yang sudah berada di depannya ini.
            “Kenapa Oik? Kaget?”Kata lelaki itu lagi. Ia menarik tubuhnya agak menjauh dari Oik dan membari jarak agar Oik dapat bernafas lagi. Ia menatap mata wanita yang berada di depannya ini lalu tersenyum simpul.
            Saat lelaki itu menjauh dari tubuh Oik, ia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Tapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Badannya seperti terhipnotis oleh tatapan sang lelaki. Jantungnya sudah terasa ingin keluar dari badannya, dan mungkin hanya satu kemungkinan yang ia bisa lakukan. Dengan berat ia menarik nafasnya yang sudah lama ia buang dan mengumpulkan semua tenaganya. Lelaki di depannya ini masih saja menyeringai dan *PLAAAK*. Tangannya sudah sukses menyentil pipi lelaki tersebut.
            “Bajingan lo”Pekik Oik ke arah lelaki tersebut. Ia membalikkan badannya dan membereskan beberapa barangnya. Ia sudah tak tahan lagi jika berlama-lama di ruangan itu.
            Saat Oik ingin mengambil langkah untuk pergi tangannya langsung dicegat oleh lelaki itu. Hanya berdua di dalam ruangan ini menurutnya seperti neraka yang akan menghabisinya.
            “Lo nggak akan pergi dari gue”Ucap lelaki tersebut. Spontan Oik mendongak ke arah lelaki itu. Kemarahannya mungkin sedang ditahannya karena ia masih ingat bahwa yang ia sedang hadapi ini adalah klien yang berpengaruh besar terhadap perusahaannya.
            “Lo biadap banget, nggak malu apa lo itu klien gue dan lo perlakuin gue seenaknya kayak tadi. Otak lo di mana sih?”ucap Oik membara tatapannya menyiratkat kobaran api yang begitu ingin ia simburkan ke arah lelaki ini.
            “Memangnya kenapa? Ini ruangan gue. Gue bisa melakukan apa saja yang gue mau.” Ya bisa ditebak dari tadi ini adalah Cakka. Who is Cakka? Let’s back to story…………..
            Cakka maju ke arah Oik, Oik melangkah mundur agar bisa memberi jarak antara ia dan Cakka. Cakka memberikan Oik tatapan puas, entah kepuasan apa yang ia dapatkan yang jelas bukan sesuatu yang menurut Oik berharga karena Oik begitu memperlihatkan tatapan kebencian kepadanya.
            “Stop ganggu hidup gue, apa lo nggak liat hidup gue berantakan saat lo hadir? Dan sekarang lo mau ngancurin hidup gue lagi. Belum puas apa lo ngelakuin semuanya sama gue? Hah? Apa nggak ada lagi wanita yang bisa lo ganggu selain gue?” Pekik Oik bertubi-tubi begitupun langkah mereka. Hingga Oik sudah tidak bisa lagi melangkah sebab tembok yang kokoh telah menghadangnya dari belakang. Cakka tetap saja melangkah ke arah Oik dan menjadi pendengar yang baik dan setia mendengar semua ucapan yang dilontarkan Oik.
            “Jadi menurut lo gue harus mati gitu?” tanya Cakka enteng. Ia terus mendekati Oik hingga sisa jarak tinggal selangkah lagi ia bisa menerkam Oik. Tapi Oik tidak akan membiarkan dirinya diperangkap oleh Cakka. Ia menggerakkan badannya ke samping agar bisa terhindar dari Cakka tapi *Seeb*Kedua tangan Cakka sudah berada di kedua sisi badan Oik dan tepat sekali untuk memblock badan Oik yang mungil itu.
            “Gue belum mau mati sebelum gue bisa dapatin apa yang gue mau.” Cakka menatap mata Oik yang menyiratkan kemarahan itu tapi ia tidak ingin membalas tatapan itu.
            “Gue harap itu bukan dari gue”Oik agak meringis kesakitan pasalanya badan Cakka yang kekar itu menyentuh bagian sensitifnya.
            “Tentu saja itu dari lo. Semuanya…”Oik seketika membulatkan matanya karena lelaki ini membuatnya benar-benar frustasi mulai dari tingkahnya hinga perkataannya.
            “Pliss gue mohon jangan ganggu gue apalagi anak gue”Ups keceplosan. Betapa bodohnya Oik memasukkan Chika dalam pembicaraan seperti ini. Begitu ia selesai berbicara, ia baru ingat bahwa Chika sama sekali tidak boleh masuk dalam pembicaraan ini, apalagi dalam situasi seperti ini. Itu hanya membuat Cakka akan lebih panjang lebar lagi dalam berargumentasi.
Ngomong apa sih gue, bego lo Ik. Tapi nggak apa, itu lebih baik buat balas nyiksa dia.
            “Ralat, ANAK KITA. Ingat itu!!...Dia juga termasuk di dalamnya”Ucap Cakka dengan nada penekanan pada kata ‘Anak Kita’. Oik mendongakkan kepalanya, berusaha melawan lelaki yang menurutnya brengsek ini.
            “Lo nggak berhak ngakuin dia sebagai anak lo. Dia cuma punya gue”
            “Apa maksud lo? Dia itu juga punya gue, gimana pun dia darah daging gue”
            “What? Ngomong apa lo? Dia nggak punya ayah kayak lo. BAJINGAN” Cakka sepertinya sudah mulai lepas kendali ia makin menggencet badan Oik hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka. Rasa sakit yang Oik rasakan sudah tidak bisa ditahannya lagi. Matanya mulai panas dan ada setitik air mata yang keluar dari matanya.
            “Cakka. Hentikan….”Rintih Oik. Baru kali ini ia mengucapkan nama Cakka orang yang tidak dikenalnya dan tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya.
            “Bisa nggak kita ngomong secara baik-baik, tanpa ada kata-kata kasar yang keluar. Gue sensitif dengan kata-kata yang lo ucapkan barusan. Dan gue bisa ngelakuin apa aja yang gue mau kalau lo nggak nurut sama gue.”Oik membulatkan matanya. Bagaimana dia bisa berkata-kata manis sedangkan lelaki yang sedang berada di depannya ini telah membuatnya geram.
            “Ok. Sekarang lepasin gue”Rupanya Oik sudah tidak tahan lagi dengan posisi itu. Walaupun ia meronta-ronta tetapi tetap saja badannya yang mungil itu tidak bisa melawan badan kekar Cakka. Hingga akhirnya ia memberatkan hatinya dengan menerima tawaran Cakka untuk memberinya peluang untuk berbicara baik-baik walau mungkin saja nantinya ia akan tetap mengeluarkan kata-kata kasarnya.
            Cakka melepaskan badannya dari badan Oik dan mulai berjalan ke arah mejanya. Oik masih tetap di tempat ia tidak tahu harus maju atau pulang saja. Ia sangat takut jika Cakka berbuat yang tidak ia inginkan nantinya.
            “Gimana kabar lo?”Tiba-tiba suara Cakka memecah pikiran Oik. Seketika itu Oik menatap mata Cakka dengan bingung. Tadi ia terlihat sangat marah dan sekarang dia bersikap ramah. Apa yang diinginkan lelaki ini, batinnya.
            “Buruk sejak kejadian itu”Jawab Oik singkat dan berjalan menuju sofa. Ia duduk dengan canggung.
            “Kalau Chika gimana?”Tanya Cakka enteng. Oik semakin memberinya tatapan bingung.
            “Lo tau dari mana semua ini?”
            “Gue punya orang yang khusus ngawasin lo”
            “Jadi selama ini elo ngintai gue?”
            “Gue cuma mau tau keadaan lo dan anak gue.”
            “Stop bilang kalau Chika anak lo. Dia cuma punya gue.”
            “Lo egois banget ngebiarin anak lo hidup tanpa ayah. Kenapa lo ga nikah aja?”
            “Lo mikirin Chika. Apa lo nggak pernah mikirin gue berjuang sendiri buat anak gue? Ngadepin hidup yang keras sama anak gue yang nggak punya bokap. Lo tuh punya prikemanusiaan atau nggak sih? Nidurin orang sembarangan. Lo kira gue kenal sama lo? Lo kira gue tau semua tentang lo? Kita nggak kenal tapi kenapa lo ngelakuin itu? Dan sekarang lo nanya kenapa gue nggak nikah? Jawabannya karena nggak ada yang mau sama cewek yang udah nggak perawan lagi kayak gue. Lo ngerti sekarang? Lebih baik gue hidup sendiri, ngurusin anak gue, ngajarin anak gue untuk nggak jadi orang biadap seperti lo.”
            “Hahaha. Itu yang gue mau. Makanya gue ambil keperawanan lo dulu supaya lo nggak bisa jatuh ketangan orang lain. Lo itu cuma punya gue”
            “Apa sih yang sedang lo pikirin? Nggak puas apa lo ngancurin hidup gue? Kenapa nggak sekalian lo bunuh gue?”
            “Gue cuma lagi mikirin gimana caranya gue bisa nikah sama lo”Oik tercengang dengan pernyataan Cakka barusan.
            “Waktu kita ketemu di hotel, gue udah ngerasa kalau gue udah jatuh cinta sama lo. Tenang aja lo yang pertama kok buat gue, lagi pula cewek-cewek yang lo liat di hotel waktu itu nggak pernah dapat yang lebih kok dari gue. Dan ketika itu lo mabuk dan gue nyempatin untuk ngelakuin itu. Gue pengen lo jadi milik gue, tapi saat hari itu juga gue dapat kabar kalau bokap gue meninggal dan gue harus ninggalin lo. Gue ambil aja KTP lo dan nyuruh Spy gue untuk ngawasin lo. Jadi intinya gue cinta sama lo, apa lo mau nikah sama gue?”Terang Cakka sambil berjalan ke arah meja yang berada di depan Oik lalu mendudukinya.
            “Gue nggak cinta sama lo dan gue nggak bakal mau cinta sama lo”Jawab Oik tak acuh.
            “Mungkin sekarang lo bilang begini tapi liat aja nanti lo bakal cinta juga sama gue”
            “Cih. Apa usaha lo selama ini yang bisa buat gue cinta sama lo? Yang ada gue makin benci tau nggak sama lo.”
            “Lo kalau marah tambah cantik yah”
            “Lo nggak usah ngalihin pembicaraan deh, apa lo mau gue bikin marah kaya tadi”
            “Jadi lo ngancem gue?”
            “Heh siapa takut sama lo? Lo kira gue mau tunduk sama lo? NGGAK AKAN TUAN NURAGA”
            “Hahaha, lo nantangin gue?”        
            Oik berdiri tegap dan matanya menatap tajam Cakka.
            “Tuh laporan nggak jadi gue presentasiin. Baca aja sendiri, gue mau pulang”Oik beranjak dari tempatnya dengan melewati Cakka. Cakka hanya tersenyum sinis. Ketika di pintu Oik mengutuk dirinya. Bagaimana dia bisa keluar dari ruangan ini kalau dikunci. Dia berbalik karena ingin meminta kunci dengan Cakka tetapi ia terkejut karena Cakka sudah berada di depannya. Sangking terjekjutnya, ia sampai oleng dan hampir terjatuh tapi dengan cepat Cakka meraih badan Oik. Terjadi tatap-tatap selama beberapa detik, hingga akhirnya Oik tersadar dan mondorong pelan badan Cakka.
            “Mana kuncinya?”Pinta Oik sambil menadahkan sebelah tangannya. Tetapi tangannya langsung disambut oleh Cakka lalu ia mencuim punggung tangan Oik. Oik benar-benar terkejut, pria ini sangat bertingkah sensual, batinnya.
            “Lo apa-apaan sih? Berani-beraninya lo…..”belum sempat Oik menghabiskan kata-katanya tetapi mulutnya sudah dibekap Cakka dengan bibirnya.Oik meronta-ronta tetapi tetap saja Cakka tidak mau melepaskan ciumannya hingga akhirnya….*PLAAK*
            “Aww..”Rintih Cakka. Sambil memegang pipi kanannya.
            “Sekarang lo bukain ini pintu atau lo gue gampar lagi.”Ancam Oik,ia terlihat sangat geram melihat wajah Cakka. Cakka berjalan ke arah pintu yang berada di belakang Oik lalu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan mulai memutarnya. Saat pintu terbuka, ia langsung keluar tak peduli dengan Cakka yang masih menatapnya sambil tetap memegang pipinya yang baru saja ditamparnya.
            *BRAK* Suara pintu dari ruangan Cakka ditutup dari sekeras-kerasnya. Oik hanya menutup mata dan menarik hafasnya, ia berusaha menetralisirkan perasaannya yang sedang bercampur aduk itu.
Lo kira lo siapa main nyosor aja. Suami bukan, pacar bukan, teman bukan, orang yang gue kenalpun bukan. Gila bener tuh orang, sinting banget. Gue nggak pernah bayangin kenapa ada dia dihidup gue. Kenapa harus gue?
            Sepanjang jalan Oik terus-menerus mencaci-maki Cakka padahal Cakka tidak sedang bersamanya sekarang. Namun, ia tetap melanjutkan ocehan-ocehannya yang mengerikan itu.
***
            Cakka kembali duduk di kursinya. Sejenak ia termenung mengingat kejadian tadi. Wajahnya geram, matanya menyiratkan kekesalan, dan tangannya dikepal sangat kuat. Ia geram terhadap sikap Oik, ia kesal terhadap sikap Oik yang tidak menghargai semua kecupan yang ia berikan padahal ia telah mengungkapkan isi hatinya.
Heh. Lo nggak bakal lepas dari genggaman gue ik, Lo ingat itu.
***

4 komentar: