Oik, Zevana, Dayat, dan Chika masuk kesebuah rumah
yang bergaya eropa, megah dan terlihat sangat kokoh. Inilah rumah baru mereka
yang akan mereka tempati bersama. Dayat menjual rumah mereka yang berada di
Jakarta Pusat dan pindah ke tempat ini yaitu Jakarta Selatan. Alasan mengapa
mereka pindah bukan karena hal lain melainkan takut jika anak satu-satunya itu
digunjingkan orang-orang sekitar komplek karena hamil di luar nikah. Dan jika
hal itu terjadi bukan Oik saja yang akan merasakan sakit melainkan ia dan
Zevana serta cucunya yaitu Chika. Ia tidak ingin disaat-saat anggota keluarganya
terkumpul semua seperti ini ada yang membuat hati mereka tidak nyaman. Maka
dari itu ia memilih Jakarta Selatan untuk tempat bernaungnya orang-orang yang
disayanginya tanpa ada hambatan yang memberati hati mereka.
“Besok
kamu sudah bisa bekerja diperusahaan papah” Saat ini Oik dan papahnya sedang
berada di ruang keluarga sambil menonton tv. Chika sudah tidur di kamarnya dan
mamanya sedang menemani Chika tidur.
“Ya
pah, tapi nanti ajarin sedikit-sedikit cara ngejalanin perusahaan soalnya sistem
manajemen perusahaan Indonesia agak sedikit berbeda dengan Jerman. Ya Oik takut
aja nanti salah-salah ngejalanin perusahaan”Ucap Oik khawatir.
“Kamu
tenang saja, klien kita orangnya ramah-ramah dan sepertinya nggak ada yang
perlu kamu cemaskan”Jelas Dayat. Oik merasa lega mendengar ucapan papahnya itu.
Ia merasa gugup karena harus memegang tanggung jawab yang begitu besar dalam
menjalankan perusahaan. Walaupun Dayat sudah memeberikan kepercayaan yang penuh
untuk anaknya itu tetapi ia harus tetap mengawasinya dari luar ia sebenarnya
tahu kalau sebenarnya Oik hanya takut mengecewakan papahnya lagi.
***
Hari
ini Oik mulai bekerja di perusahaan papahnya. Baru saja memasuki ruang kerja
barunya tapi ia sudah harus menghadiri pertemuan dengan kliennya untuk membahas
program kerja yang akan mereka tampilkan di depan publik. Ternyata perusahaan
ini sibuk sekali, fikirnya.
Dengan
sigap Oik berjalan ke arah SUV barunya yang sudah menjadi kendaraan pribadinya.
Ia menyalakan SUVnya dan langsung melesat ke perusahaan yang akan dituju,
sesuai dengan laporan yang diberikan nama perusahaan tersebut ialah Nuraga Corp.
***
*Pletak,
pletok,pletak,pletok*. Suara langkah kaki dari wanita yang memiliki rambut ikal
ini menghiasi koridor lantai 5. Tadi saat di lobby ia disuruh langsung saja menemui pemimpin perusahaan Nuraga
yang ia tidak tahu siapa orangnya. Walaupun begitu, ia harus tetap menemui
kliennya ini, jika tidak, bisa saja perusahaan papahnya akan mengalami kerugian
yang lumayan besar.
Sesampainya
di depan pintu ruang kerja kliennya, ia membaca papan nama yang berada di pintu
tersebut “Cakka K. Nuraga”.
Namanya
persis Chika. Hanya berbeda beberapa huruf. Oh ya ampun, kenapa tiba-tiba
rasanya gue kangen banget sama Chika. Sedang apa kamu nak?
“Mari
saya antar masuk, Cakka sedang ada urusan sebentar jadi Anda disuruh
menunggunya di dalam”Ucap seorang lelaki berwajah oriental yang tiba-tiba saja
berada di belakang Oik. Lelaki tersebut menyuruh Oik duduk disebuah sofa lalu
meninggalkannya.
Oik
memandangi sudut-sudut ruangan itu, dindingnya dicat warna cream. Lemari-lemari
yang berada disudut ruangan itu penuh dengan buku-buku laporan. Hening sekali
di ruangan itu sampai-sampai Oik bergidik ngeri karena suasananya yang begitu
sunyi. Ia mengambil sebuah map yang tadi ia bawa lalu membacanya, sementara ini
ia mengisi waktu dengan beberapa bacaan laporan hingga ia mendengar sebuah
derapan langkah seseorang yang mulai mendekat. Ia berusaha untuk tidak gugup,
ia tetap pada posisinya semula. Suara
pintu mulai dibuka dan ditutup lagi tetapi Oik sama sekali tidak mengubah
posisinya, ia semakin gugup karena baru kali ini ia menghadapi seorang klien
yang belum pernah ia temui sebelumnya.
*Ceklek*,
Oik mendengar suara pintu yang sepertinya baru saja dikunci. Karena takut ia
langsung menutup map yang dipegangnya dan terlonjak berdiri.
*Duaarrrrrrr,
Jedeerrrrrr*, begitulah suara jantung Oik ketika melihat siapa yang sedang
berdiri di depannya ini. Mulutnya tetap menganga, matanya bulat dan sepertinya
ingin keluar dari kelopaknya. Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga, ingin
rasanya ia berlari ke planet yang paling jauh saat ini juga, dan ingin rasanya
saat itu juga ia terbangun saja dari mimpinya itu. Tapi sayangnya ini bukanlah
mimpi, melainkan ini kenyataan yang harus dihadapinya.
Lelaki
itu tidak menanggapi rasa terkejutnya Oik, ia beranjak dari pintu dan
mengampiri Oik yang sedang berdiri di dekat sofa.
“Hai
Oik” Ucap lelaki itu tapi sedetik kemudian dengan cepat ia mengecup bibir Oik,
ia mengambil kesempatan ketika mulut Oik yang ternganga untuk memasukkan
lidahnya. Selama lima detik mereka berada dalam posisi itu, Oik tidak
membalasnya ataupun menolaknya, ia masih terkejut ketika melihat lelaki yang
sudah berada di depannya ini.
“Kenapa
Oik? Kaget?”Kata lelaki itu lagi. Ia menarik tubuhnya agak menjauh dari Oik dan
membari jarak agar Oik dapat bernafas lagi. Ia menatap mata wanita yang berada
di depannya ini lalu tersenyum simpul.
Saat
lelaki itu menjauh dari tubuh Oik, ia ingin sekali meninggalkan tempat ini.
Tapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Badannya seperti
terhipnotis oleh tatapan sang lelaki. Jantungnya sudah terasa ingin keluar dari
badannya, dan mungkin hanya satu kemungkinan yang ia bisa lakukan. Dengan berat
ia menarik nafasnya yang sudah lama ia buang dan mengumpulkan semua tenaganya.
Lelaki di depannya ini masih saja menyeringai dan *PLAAAK*. Tangannya sudah
sukses menyentil pipi lelaki tersebut.
“Bajingan
lo”Pekik Oik ke arah lelaki tersebut. Ia membalikkan badannya dan membereskan
beberapa barangnya. Ia sudah tak tahan lagi jika berlama-lama di ruangan itu.
Saat
Oik ingin mengambil langkah untuk pergi tangannya langsung dicegat oleh lelaki
itu. Hanya berdua di dalam ruangan ini menurutnya seperti neraka yang akan
menghabisinya.
“Lo
nggak akan pergi dari gue”Ucap lelaki tersebut. Spontan Oik mendongak ke arah
lelaki itu. Kemarahannya mungkin sedang ditahannya karena ia masih ingat bahwa
yang ia sedang hadapi ini adalah klien yang berpengaruh besar terhadap perusahaannya.
“Lo
biadap banget, nggak malu apa lo itu klien gue dan lo perlakuin gue seenaknya
kayak tadi. Otak lo di mana sih?”ucap Oik membara tatapannya menyiratkat
kobaran api yang begitu ingin ia simburkan ke arah lelaki ini.
“Memangnya
kenapa? Ini ruangan gue. Gue bisa melakukan apa saja yang gue mau.” Ya bisa
ditebak dari tadi ini adalah Cakka. Who is Cakka? Let’s back to story…………..
Cakka
maju ke arah Oik, Oik melangkah mundur agar bisa memberi jarak antara ia dan
Cakka. Cakka memberikan Oik tatapan puas, entah kepuasan apa yang ia dapatkan
yang jelas bukan sesuatu yang menurut Oik berharga karena Oik begitu
memperlihatkan tatapan kebencian kepadanya.
“Stop
ganggu hidup gue, apa lo nggak liat hidup gue berantakan saat lo hadir? Dan
sekarang lo mau ngancurin hidup gue lagi. Belum puas apa lo ngelakuin semuanya
sama gue? Hah? Apa nggak ada lagi wanita yang bisa lo ganggu selain gue?” Pekik
Oik bertubi-tubi begitupun langkah mereka. Hingga Oik sudah tidak bisa lagi
melangkah sebab tembok yang kokoh telah menghadangnya dari belakang. Cakka
tetap saja melangkah ke arah Oik dan menjadi pendengar yang baik dan setia
mendengar semua ucapan yang dilontarkan Oik.
“Jadi
menurut lo gue harus mati gitu?” tanya Cakka enteng. Ia terus mendekati Oik
hingga sisa jarak tinggal selangkah lagi ia bisa menerkam Oik. Tapi Oik tidak
akan membiarkan dirinya diperangkap oleh Cakka. Ia menggerakkan badannya ke
samping agar bisa terhindar dari Cakka tapi *Seeb*Kedua tangan Cakka sudah berada
di kedua sisi badan Oik dan tepat sekali untuk memblock badan Oik yang mungil
itu.
“Gue
belum mau mati sebelum gue bisa dapatin apa yang gue mau.” Cakka menatap mata
Oik yang menyiratkan kemarahan itu tapi ia tidak ingin membalas tatapan itu.
“Gue
harap itu bukan dari gue”Oik agak meringis kesakitan pasalanya badan Cakka yang
kekar itu menyentuh bagian sensitifnya.
“Tentu
saja itu dari lo. Semuanya…”Oik seketika membulatkan matanya karena lelaki ini
membuatnya benar-benar frustasi mulai dari tingkahnya hinga perkataannya.
“Pliss
gue mohon jangan ganggu gue apalagi anak gue”Ups keceplosan. Betapa bodohnya
Oik memasukkan Chika dalam pembicaraan seperti ini. Begitu ia selesai
berbicara, ia baru ingat bahwa Chika sama sekali tidak boleh masuk dalam
pembicaraan ini, apalagi dalam situasi seperti ini. Itu hanya membuat Cakka
akan lebih panjang lebar lagi dalam berargumentasi.
Ngomong
apa sih gue, bego lo Ik. Tapi nggak apa, itu lebih baik buat balas nyiksa dia.
“Ralat,
ANAK KITA. Ingat itu!!...Dia juga termasuk di dalamnya”Ucap Cakka dengan nada
penekanan pada kata ‘Anak Kita’. Oik mendongakkan kepalanya, berusaha melawan
lelaki yang menurutnya brengsek ini.
“Lo
nggak berhak ngakuin dia sebagai anak lo. Dia cuma punya gue”
“Apa
maksud lo? Dia itu juga punya gue, gimana pun dia darah daging gue”
“What?
Ngomong apa lo? Dia nggak punya ayah kayak lo. BAJINGAN” Cakka sepertinya sudah
mulai lepas kendali ia makin menggencet badan Oik hingga tidak ada lagi jarak
diantara mereka. Rasa sakit yang Oik rasakan sudah tidak bisa ditahannya lagi.
Matanya mulai panas dan ada setitik air mata yang keluar dari matanya.
“Cakka.
Hentikan….”Rintih Oik. Baru kali ini ia mengucapkan nama Cakka orang yang tidak
dikenalnya dan tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya.
“Bisa
nggak kita ngomong secara baik-baik, tanpa ada kata-kata kasar yang keluar. Gue
sensitif dengan kata-kata yang lo ucapkan barusan. Dan gue bisa ngelakuin apa
aja yang gue mau kalau lo nggak nurut sama gue.”Oik membulatkan matanya.
Bagaimana dia bisa berkata-kata manis sedangkan lelaki yang sedang berada di
depannya ini telah membuatnya geram.
“Ok.
Sekarang lepasin gue”Rupanya Oik sudah tidak tahan lagi dengan posisi itu.
Walaupun ia meronta-ronta tetapi tetap saja badannya yang mungil itu tidak bisa
melawan badan kekar Cakka. Hingga akhirnya ia memberatkan hatinya dengan
menerima tawaran Cakka untuk memberinya peluang untuk berbicara baik-baik walau
mungkin saja nantinya ia akan tetap mengeluarkan kata-kata kasarnya.
Cakka
melepaskan badannya dari badan Oik dan mulai berjalan ke arah mejanya. Oik
masih tetap di tempat ia tidak tahu harus maju atau pulang saja. Ia sangat
takut jika Cakka berbuat yang tidak ia inginkan nantinya.
“Gimana
kabar lo?”Tiba-tiba suara Cakka memecah pikiran Oik. Seketika itu Oik menatap
mata Cakka dengan bingung. Tadi ia terlihat sangat marah dan sekarang dia
bersikap ramah. Apa yang diinginkan lelaki ini, batinnya.
“Buruk
sejak kejadian itu”Jawab Oik singkat dan berjalan menuju sofa. Ia duduk dengan
canggung.
“Kalau
Chika gimana?”Tanya Cakka enteng. Oik semakin memberinya tatapan bingung.
“Lo
tau dari mana semua ini?”
“Gue
punya orang yang khusus ngawasin lo”
“Jadi
selama ini elo ngintai gue?”
“Gue
cuma mau tau keadaan lo dan anak gue.”
“Stop
bilang kalau Chika anak lo. Dia cuma punya gue.”
“Lo
egois banget ngebiarin anak lo hidup tanpa ayah. Kenapa lo ga nikah aja?”
“Lo
mikirin Chika. Apa lo nggak pernah mikirin gue berjuang sendiri buat anak gue?
Ngadepin hidup yang keras sama anak gue yang nggak punya bokap. Lo tuh punya
prikemanusiaan atau nggak sih? Nidurin orang sembarangan. Lo kira gue kenal
sama lo? Lo kira gue tau semua tentang lo? Kita nggak kenal tapi kenapa lo
ngelakuin itu? Dan sekarang lo nanya kenapa gue nggak nikah? Jawabannya karena
nggak ada yang mau sama cewek yang udah nggak perawan lagi kayak gue. Lo ngerti
sekarang? Lebih baik gue hidup sendiri, ngurusin anak gue, ngajarin anak gue
untuk nggak jadi orang biadap seperti lo.”
“Hahaha.
Itu yang gue mau. Makanya gue ambil keperawanan lo dulu supaya lo nggak bisa
jatuh ketangan orang lain. Lo itu cuma punya gue”
“Apa
sih yang sedang lo pikirin? Nggak puas apa lo ngancurin hidup gue? Kenapa nggak
sekalian lo bunuh gue?”
“Gue
cuma lagi mikirin gimana caranya gue bisa nikah sama lo”Oik tercengang dengan
pernyataan Cakka barusan.
“Waktu
kita ketemu di hotel, gue udah ngerasa kalau gue udah jatuh cinta sama lo.
Tenang aja lo yang pertama kok buat gue, lagi pula cewek-cewek yang lo liat di
hotel waktu itu nggak pernah dapat yang lebih kok dari gue. Dan ketika itu lo
mabuk dan gue nyempatin untuk ngelakuin itu. Gue pengen lo jadi milik gue, tapi
saat hari itu juga gue dapat kabar kalau bokap gue meninggal dan gue harus
ninggalin lo. Gue ambil aja KTP lo dan nyuruh Spy gue untuk ngawasin lo. Jadi
intinya gue cinta sama lo, apa lo mau nikah sama gue?”Terang Cakka sambil
berjalan ke arah meja yang berada di depan Oik lalu mendudukinya.
“Gue
nggak cinta sama lo dan gue nggak bakal mau cinta sama lo”Jawab Oik tak acuh.
“Mungkin
sekarang lo bilang begini tapi liat aja nanti lo bakal cinta juga sama gue”
“Cih.
Apa usaha lo selama ini yang bisa buat gue cinta sama lo? Yang ada gue makin
benci tau nggak sama lo.”
“Lo
kalau marah tambah cantik yah”
“Lo
nggak usah ngalihin pembicaraan deh, apa lo mau gue bikin marah kaya tadi”
“Jadi
lo ngancem gue?”
“Heh
siapa takut sama lo? Lo kira gue mau tunduk sama lo? NGGAK AKAN TUAN NURAGA”
“Hahaha,
lo nantangin gue?”
Oik
berdiri tegap dan matanya menatap tajam Cakka.
“Tuh
laporan nggak jadi gue presentasiin. Baca aja sendiri, gue mau pulang”Oik
beranjak dari tempatnya dengan melewati Cakka. Cakka hanya tersenyum sinis.
Ketika di pintu Oik mengutuk dirinya. Bagaimana dia bisa keluar dari ruangan
ini kalau dikunci. Dia berbalik karena ingin meminta kunci dengan Cakka tetapi
ia terkejut karena Cakka sudah berada di depannya. Sangking terjekjutnya, ia
sampai oleng dan hampir terjatuh tapi dengan cepat Cakka meraih badan Oik.
Terjadi tatap-tatap selama beberapa detik, hingga akhirnya Oik tersadar dan mondorong
pelan badan Cakka.
“Mana
kuncinya?”Pinta Oik sambil menadahkan sebelah tangannya. Tetapi tangannya
langsung disambut oleh Cakka lalu ia mencuim punggung tangan Oik. Oik
benar-benar terkejut, pria ini sangat bertingkah sensual, batinnya.
“Lo
apa-apaan sih? Berani-beraninya lo…..”belum sempat Oik menghabiskan
kata-katanya tetapi mulutnya sudah dibekap Cakka dengan bibirnya.Oik
meronta-ronta tetapi tetap saja Cakka tidak mau melepaskan ciumannya hingga
akhirnya….*PLAAK*
“Aww..”Rintih
Cakka. Sambil memegang pipi kanannya.
“Sekarang
lo bukain ini pintu atau lo gue gampar lagi.”Ancam Oik,ia terlihat sangat geram
melihat wajah Cakka. Cakka berjalan ke arah pintu yang berada di belakang Oik
lalu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan mulai memutarnya. Saat
pintu terbuka, ia langsung keluar tak peduli dengan Cakka yang masih menatapnya
sambil tetap memegang pipinya yang baru saja ditamparnya.
*BRAK*
Suara pintu dari ruangan Cakka ditutup dari sekeras-kerasnya. Oik hanya menutup
mata dan menarik hafasnya, ia berusaha menetralisirkan perasaannya yang sedang
bercampur aduk itu.
Lo
kira lo siapa main nyosor aja. Suami bukan, pacar bukan, teman bukan, orang
yang gue kenalpun bukan. Gila bener tuh orang, sinting banget. Gue nggak pernah
bayangin kenapa ada dia dihidup gue. Kenapa harus gue?
Sepanjang
jalan Oik terus-menerus mencaci-maki Cakka padahal Cakka tidak sedang
bersamanya sekarang. Namun, ia tetap melanjutkan ocehan-ocehannya yang
mengerikan itu.
***
Cakka
kembali duduk di kursinya. Sejenak ia termenung mengingat kejadian tadi.
Wajahnya geram, matanya menyiratkan kekesalan, dan tangannya dikepal sangat
kuat. Ia geram terhadap sikap Oik, ia kesal terhadap sikap Oik yang tidak
menghargai semua kecupan yang ia berikan padahal ia telah mengungkapkan isi
hatinya.
Heh.
Lo nggak bakal lepas dari genggaman gue ik, Lo ingat itu.
***
kak pleaseee lanjuuut kak,. sumpah ini keren pake bgt..
BalasHapusKak ayo lanjut dong ka, penasaran nih
BalasHapuskak, lanjut dong, penasaran nih
BalasHapuskak, kok gak dilanjut sih ?
BalasHapus