Rabu, 24 Juli 2013

Baby From The Devil part 2 (CAIK)



Dua minggu berlalu, Oik masih saja dihantui dengan dendamnya kepada lelaki yang bernama K itu. Apalagi saat ia tahu bahwa lelaki itu memberinya bekas, bekas perlakuannya malam itu yaitu sebuah janin. Janin? Ya Oik hamil, hamil anak K.

Ia sangat benci dengan bayinya ini tetapi ia tidak pernah berniat untuk menggugurkannya. Menurutnya, itu adalah salah satu hal terburuk untuk mengakhiri penderitaan. Walaupun berasal dari seseorang yang ia benci bukan berarti ia harus membunuh janin yang sama sekali tidak berdosa itu. Jika ia membunuh janinnya, ia tahu bahwa tubuhnya tidak akan sehat lagi, penyakit – penyakit bisa saja tumbuh, dan ia juga tahu perbuatan itu akan dinilai sangat berdosa di mata Tuhan. Maka, ia berkeputusan untuk tetap bersama bayinya. Tetapi yang memberatkan pikirannya sekarang adalah orang tuanya, ia sangat bingung menghadapi mereka. Kecewa, marah, sedih itu sudah pasti. Tetapi ia punya rencana untuk tetap membesarkan anaknya itu walaupun hanya seorang diri.
            Oik serasa ingin mengutuk lelaki bajingan itu, akibat kelakuannya yang seperti orang barbar membuatnya harus tersiksa lahir dan batin rohani maupun jasmani. Semua membuatnya muak dan bingung harus bagaimana menjalaninya, tetapi karena fikirannya yang sangat ingin mandiri ia rela melakukan apa saja yang bisa membuatnya tetap menjadi seseorang yang kuat.
            Pada minggu ketiga, Oik memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Entah mengapa rasa benci pada bayi itu menghilang dan berganti dengan rasa kasih sayang. Sampai – sampai ia berencana untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Jerman sampai anak yang ia kandung lahir, awalnya orang tuanya menentang tetapi karena tidak ingin nama keluarganya hina dimuka umum, orang tuanya mengiyakan keputusannya. Oik menceritakan semua kejadian yang menimpanya kepada orang tuanya sebab ia tidak ada yang ingin ia tutup – tutupi dari orang tuanya. Mamanya yang mendengar pernyataan itu menangis sejadi – jadinya, orang tuanya percaya kepada semua ceritanya sebab ia tidak pernah berbohong kepada orang tuanya. Ia terlalu polos untuk tidak dipercaya.
            Setelah dapat mengantongi kepercayaan dari orang tuanya, Oik meninggalkan Indonesia. Sangat berat baginya untuk meninggalkan kedua orang tuanya sendirian. Namun, ia berjanji saat pulang nanti ia akan mendapatkan gelar sarjananya. Ia akan kuliah setelah ia melahirkan dan setelah ia mendapatkan gelar sarjana ia akan pulang dan menetap lagi ke Indonesia. Soal anaknya, ia akan berjuang untuk menjaga, mengurus dan membesarkan anaknya semampunya. Tapi, yang ia sekarang fikirkan adalah apa dia harus meminta pertanggungjawaban dari K? apa dia mau menerima anak ini? Dan apa yang harus dia katakan jika anaknya menanyakan siapa ayahnya yang sebenarnya?
Mengenaskan sekali hidup kita nak. Ini semua akibat lelaki bajingan itu. Dia merusak hidup Bunda, dia penghancur segalanya. Batinnya. Saat ini ia sedang duduk manis di depan home teaternya, beginilah keseharian Oik di Jerman, hanya menonton tv, tidur, membereskan rumah, pergi ke supermarket, dan sesekali Chek-up ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan bayinya. Ia tidak betah dengan keadaannya sekarang yang hanya membosankannya saja. Di rumah ini hanya ada dia dan bayi di perutnya. Ia bahkan belum memiliki teman di sini, tetangga – tetangganya sangat tertutup hingga ia kesusahan untuk bergaul dengan mereka. Kesepian? Tentu saja tidak, ia masih memiliki teman yang tidak bisa lepas dari dirinya. Sesekali karena tidak ada yang ia ajak bicara maka ia sering kali berbicara pada bayi yang ada di rahimnya yang tentu saja tidak ada jawaban sama sekali.
***

           










9 bulan kemudian Oik melahirkan seorang putri yang mungil, cantik, imut, manis dan sangat lucu. Anak itu di berinya nama Chika Putri Ramadlani, ia sendiri yang memberi nama anaknya. Sakit yang ia rasakan akibat melahirkan kini dapat terobati secara jitu saat ia melihat malaikat kecilnya itu lahir dengan keadaan sempurna. Ayah – ibunya juga merasakan kebahagiaan itu, awalnya mereka cemas karena jika bayi itu lahir maka akan bertambah buruk pula image mereka di mata masyarakat. Apalagi Oik yang harus berjuang sendiri tanpa seorang suami yang mendampinginya. Tetapi, saat melihat bayi yang mungil itu, mereka tak memperdulikannya lagi, malah mereka sibuk untuk mengurus segala tetek – bengek yang diperlukan oleh cucunya. Sampai – sampai mereka rela menghabiskan waktu 3 bulan untuk mengurus cucunya, mengingat Oik masih belum pulih akibat melahirkan.
            Oik memandangi Chika yang sedang tertidur lelap di gendongannya. Ia teringat mimpinya dan kini, mimpi itu menjadi kenyataan. Ia benar – benar memiliki seorang putri, sama seperti mimpinya, mimpi sejak awal ia bertemu K. Dia mirip sekali dengan K, bentuk wajahnya, hidungnya, bibirnya dan matanya. Mata itu, mata yang pernah dia temui di hotel tahun lalu. Hah? Dia memikirkan K lagi.
Gue nggak tau harus marah atau berterimakasih sama lo. Di satu sisi gue marah atas kejadian itu dan di satu sisi lagi gue bersyukur karena lo, gue bisa punya malaikat kecil seperti dia. Apa yang harus gue lakukan K? kalau anak ini nanyain lo. Apa gue harus jujur atau menyembunyikan lo dari dia.? Gue nggak mau liat dia sedih, gue nggak akan biarin dia sedih. Mau nggak mau gue harus bilang kalo lo udah mati. Maafin gue. Batin Oik, ia sekarang tidak terlalu marah pada K, rasa dendamnya pun hilang. Ia ingin melupakan K untuk selama – lamanya, ia ingin membuka lembaran baru bersama malaikat kecilnya itu.
            “Mah”Panggil Oik pelan pada mamanya agar tidak membangunkan Chika yang sedang tertidur. Zevana – mama Oik – yang sedang membereskan tempat tidur cucunya itu menoleh ke arah Oik, ia melihat Oik mengangkat sedikit tangannya yang menimang Chika memberi tanda bahwa ia menyerahkan anaknya kepadanya. Zevana berjalan menuju Oik dan mengambil alih menimang Chika lalu membaringkannya di tempat tidurnya yang mungil. Zevana dan Oik berdiri di samping tempat tidur Chika memperhatikan Chika dengan tatapan yang berbunga – bunga.
            “Dia bayi yang sangat cantik”Puji Zevana sambil tersenyum melihat cucunya yang sedang tertidur dengan pulas itu. Oik hanya tersenyum mendengar pernyataan Zevana.
Ya mah. Dia mirip K. batin Oik. Setiap melihat Chika ia tidak pernah henti – henti beranggapan bahwa Chika sangat mirip dengan K. Ini benar – benar replica K, tidak ada satu pun bentuk yang Chika punya dari dirinya. Ya Tuhan, ia bahkan selalu memikirkan K, usahanya untuk melupakan K menjadi susah. Bayangan K muncul lagi di benaknya, tapi ia segera menepisnya. Di geleng – gelengkannya kepalanya dengan cepat agar bayangan itu pergi.
            “Mah, Oik berangkat dulu yah, titip Chika” pamit Oik setelah mencium tangan mamanya dan ia pergi.
***

            Oik berjalan dikoridor kampus barunya yaitu Frankfurt School of Finance & Management. Ia agak bingung harus kemana, kampusnya terlalu besar dan susah mencari kelasnya karena hari ini adalah hari pertamanya kuliah di  Frankfurt School of Finance & Management. Kesana – kemari ia berjalan hanya untuk mendapatkan kelas namun kelas yang akan dimasukinya sama sekali tidak terlihat. Ia terus berjalan hingga hampir sampai di ujung koridor, ia melihat sebuah kelas di depannya. Dengan sedikit saja memincingkan matanya, ia dapat melihat di atas pintu kelas terdapat tulisan “Management”.

Ya ampun ini kelas terpencil banget. Capek tau muter- muter. Kata Oik kesal. Entah siapa yang ia marahi, mungkin saja kelas yang berada di depannya sekarang ini.

            Dengan gontai ia melangkah menuju kelas barunya itu hingga ia tidak sadar kalau seseorang juga sedang berjalan ke arahnya dari depan. Keduanya tidak sadar kalau mereka sedang berjalan dijalur yang sama dengan arah berlawanan sambil menunduk. Tiba – tiba..

-*Bruuk*- keduanya tersentak, kepala mereka saling terhantuk.

            “Tut, mir leid.”Ucap Oik sambil berjongkok mengambil barang – barang orang yang ada dihadapannya itu. Tapi ia terhenti pada sebuah novel yang berjudul “Kepingan Cinta Lalu”. Ia bangkit dan menyodorkan kepada orang yang berada di depannya, saat ia mendongak ke arah orang tersebut ternyata dia seorang wanita yang berwajah Asia.

            “Hei, kamu orang Indonesia yah” Tanya Oik. Ia akan merasa bahagia jika berteman dengan sesama warga Indonesia disini karena selama ia tinggal di Jerman ia hanya menemukan sedikit saja warga Indonesia.

            “Ya. kok lo……..emh maksud saya, ya saya warga Indonesia kok kamu tahu? Keliatan banget ya.”

            “Pake gue-lo aja. Gue orang Jakarta kok. Ya, Asia banget muka lo. Gue tau juga karena lo baca novel dengan bahasa Indonesia. hehe”

            “Masa sih? Eh iya gue Sivia sorry tadi gue nggak liat keasyikan baca nih novel masalahnya”

            “Gue Oik. Ya nggak apa kok itu kan cuma kecelakaan”Sejenak mereka berjabat tangan lalu berjalan beriringan menuju kelas.
            “Lo ngambil management?”
            “Ya. Begitu lah. Bokap gue nyuruh gue masuk management supaya nanti bisa lanjuti perusahaannya. Gue sih cuma bisa ngikut aja soalnya nggak ada yang diharapin lagi selain gue”
            “Wah, hebat tuh. Pasti lo anak tunggal yah?”Oik menangguk.
            “Lo harusnya bersyukur, lo dipercayain sama bonyok lo untuk ngejalanin perusahaan apalagi lo cewek fikirannya pasti nggak sempit.”
            “Ya sih. Terus lo ngambil management atas suruhan bokap lo?”
            “Bokap gue udah nggak ada, gue cuma punya nyokap dan kakak cowok.”wajah Sivia seketika menjadi murung.
            “Eh maaf gue nggak bermaksud---“Oik merasa bersalah atas ucapannya yang sama sekali tidak ia sengajai.
            “Nggak apa kok, bukan gue kok yang milih management tapi kakak gue, dia nyuruh gue untuk jadi penerus perusahaan papah. Aneh, kan ada dia.”Sivia mengerutkan keningnya mengingat kakaknya yang sangat jenius itu menyuruhnya untuk meneruskan perusahaan yang dulu dibangun ayahnya. Kalau misalnya kakanya punya keluarga dan memiliki anak, pasti perusahaan itu juga akan diwariskan kepada anak – anaknya.
            “Ya kali aja dia mau nyiapin untuk masa depan lo nanti”Oik berusaha positive.
            “Ya juga sih. Eh asik juga yah ngobrol sama lo.”
            “Haha, lo bisa aja Vi.”
            Oik dan Sivia ngobrol sepuasnya sambil menunggu jam pelajaran mereka masuk. Oik dan Sivia sama – sama menceritakan masalah pribadi mereka masing – masing. Entah tentang tempat tinggal mereka yang sama – sama berada di Jakarta pusat. Mereka mengobrol layaknya sahabat yang telah lama berteman.
***
            Oik dan Sivia berjalan di sebuah komplek peumahan. Sepulang dari kampus Sivia meminta Oik agar mengajaknya menemui Chika. Oik telah cerita banyak mengenai Chika dan kejadian sebelumnya. Mereka tidak saling menutupi semua problem yang pernah ada dalam hidup mereka, mungkin karena mereka merasa saling cocok untuk berbagi cerita satu sama lain.
            Oik dan Sivia memasuki rumah berwarna putih yang memiliki arsitekur minimalis dengan ukuran yang sedang, namun tetap nyaman di pandang. Setahun yang lalu, rumah ini dibeli oleh orang tua Oik untuk tempat tinggal Oik selama berada di Jerman.
            “Mau minum apa Vi?”Tanya Oik sambil menanggalkan mantelnya lalu menarunya di kursi.
            “Yang seger aja deh Ik”Kemudian Oik berlalu dari hadapan Sivia. Ia melihat dibeberapa sudut ruang tamu berjejer foto – foto Oik saat SMA, saat Oik ulang tahun yang ke-17, dan ada sebuah foto membuatnya tersenyum miris adalah saat Oik menimang seorang bayi nan mungil. Di dalam foto tersebut, Oik mencium bayinya dengan penuh kasih sayang. Senyum dan air mata terpancar dari wajah Sivia.
Begitu besar perjuangan lo Ik. Lo harus bertahan sendirian tanpa seseorang yang mendampingi lo. Lelaki itu emang berengsek, dia enak – enak ninggalin lo. Sementara lo susah payah disini. Kalo gue jadi lo, mungkin gue lebih baik bunuh diri aja.batin Sivia. Sangking asyiknya memandangi foto – foto tersebut Sivia tidak sadar kalau Oik sedang memperhatikannya.
            “Udah jangan mewek gitu dong, ntar cantiknya hilang”Ucap Oik sambil meletakkan minuman di atas meja.
            “Ah, elo Ik. Tapi kok lo bisa sih bertahan dengan semua ini? Gue sih kalo jadi lo mending gue bunuh diri aja biar semua selesai”Sivia berjalan ke sofa dan duduk di hadapan Oik.
            “Chika yang buat gue bertahan Vi. Gue ngerasa kalo dia anugerah dari Tuhan yang nggak boleh disia – siakan. Lo jangan bilang buuh diri, itu nggak baik. Nggak semua masalah bisa diselesaiin dengan bunuh diri.”Lerai Oik.
            “Ya, sih Ik. Tapi lo pernah ada rencana buat gugurin kandungan lo nggak waktu itu?”Tanya Sivia. Biasanya wanita – wanita yang hamil di luar nikah dan tidak ada yang mau bertanggung jawab, maka jalan lainnya adalah oborsi agar image mereka di depan umum tetap baik.
            “Gue pernah sih ada fikiran mau aborsi tapi gue nggak bisa ngelawan takdir. Hati gue nggak bisa dan nggak sanggup buat ngelakuin itu.”
            “Lo baik banget Ik, laki – laki itu berengsek udah ngerusak hidup lo. Gue nggak nyangka ternyata ada aja cowok yang setega itu.”
            “Sudah lah Vi, jangan bahas dia lagi. Gue mau ngejalanin kehidupan gue sama Chika tanpa ada memori tentang dia”
            “Maaf Ik, gue nggak bermaksud, gue terbawa emosi”Oik hanya mengangguk.
            “Eh, gue belum liat anak lo. Boleh nggak kalo gue liat sekarang?”
            “Boleh kok. Yuk, dia ada di kamar gue sama nyokap gue.”Ajak Oik sambil menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
            “Nyokap lo kapan pulang ke Indonesia?”Oik dan Sivia menaiki tangga.
            “Sebulan lagi Vi.”Nada suara Oikmenjadi turun.
            “Jangan sedih neng, kalo nyokap lo pulang gue mau kok nemenin lo tinggal di sini, itung – itung belajar jadi ibu.”
            “Haha, nggak ngerepotin nih”
            “Nggak sih asal gue nggak tidur di luar aja”Canda Sivia.
            “Haha, nggak mungkin kali gue nyuruh lo tidur di depan. Ada – ada aja lo”
            Mereka tiba di kamar Oik, mama Oik tidur di sebelah Chika yang sekarang juga tertidur. Sebuah senyum terkembang dari sudut bibir Oik.
            “Dua perempuan yang paling berharga dalam hidup gue Vi.”gumam Oik sambil terus memandang ke arah dua sosok perempuan di depannya.
            “Mereka berharga ya Ik buat lo”
            “Ya Vi. Sayang gue ke mereka lebih besar daripada diri gue sendiri”Sivia mengangguk paham. Tiba – tiba Chika menggeliatkan badannya dan setelah itu ia menangis. Oik dan Sivia terkejut lalu menghampiri Chika yang ternyata menangis karena pipis. Zevana yang terbangun mendengar cucunya yang menangis itu langsung membantu Oik membereskan pakaian – pakaian Chika yang kotor.
            Kini saatnya Oik memberikan Chika asupan asi. Sivia dengan segera menghampirinya dan duduk disampingnya. Chika dengan antusias menerima tetes demi tetes asi yang diberikan Oik, sambil mencerna tetesan itu Chika menatap Oik dengan tatapan malaikatnya begitu juga Oik menatap Chika dengan dalam seakan – akan mereka berbicara melalui tatapan itu.
            Sudut bibir Sivia terangkat begitu melihat Oik yang memberikan tatapan indah kepada malaikat kecilnya. Ia melihat jelas tatapan Chika, begitu lembut selembut kulitnya. Matanya,? Matanya tak asing lagi bagi Sivia, mata itu seperti milik seseorang. Sejenak Sivia tertegun melihat mata itu. Ya seseorang yang sangat ia kenal dan ia sayangi.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar