Rabu, 24 Juli 2013

Baby From The Devil part 1 (CAIK)



Baby From The Devil
-Kamu tidak tahu siapa saya, tapi kamu tidak akan lupa dengan saya-

 
            Oik tiba di banda udara Frankfurt, Ia datang ke Jerman untuk berlibur karena baru saja lulus dari bangku SMA. Dia meminta orang tuanya untuk memberikan sedikit ruang untuk refreshing lantaran baru saja menghadapi Ujian yang begitu menguras otak, kesabaran, dan tenaga. Sebenarnya ini untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke negeri Jerman tersebut. Tapi dengan berbekal ilmu yang pernah ia pelajari saat bangku SMA, ia jadi mengetahui apa saja yang ada di Jerman termasuk semua wisata yang banyak dikunjungi para artis Hollywood saat berlibur di neraga ini.
            Oik menggeret kopernya ke luar bandara lalu mencari taksi untuk mengantarnya ke hotel tempat dimana dia akan menginap beberapa minggu saat di Jerman.
            Setelah sampai Landhotel St. Gereon, Oik memesan kamar tidur untuk 1 orang dengan ukuran king yang barada di lantai 8 dengan nomor kamar yaitu 188. Oik berjalan di korodor lantai 8 dan saat menuju kamarnya ia melihat seorang laki – laki sedang mencumbui seorang wanita yang berpakaian sexy di depan kamarnya.
Huh menjijikan. Umpat Oik dalam hati melihat pemandangan yang sangat ia benci yaitu bercumbu di depan umum. Apa nggak ada tempat lain lagi ya? Selain di depan pintu hotel. Mengenaskan sekali kalian. Cibir Oik lagi dalam hati. Ia tidak melihat jelas si pria karena membelakanginya dan wanita yang bersamanya juga terlihat samar – samar dilihatnya. Oik mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke kamarnya agar tidak bisa melihat pemandangan yang mengenasakan itu lebih lama lagi.
            Oik menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya dan mengambil handphonenya yang berada di saku celana jeansnya lalu mengutak –atik tombolnya. Ia akan menelpon mamanya yang sekarang berada di Indonesia.
            “Hallo”
            “Hallo, ma Oik sudah sampai hotel nih” Lapor Oik pada mamanya. Ya, ini lah yang sering dilakukan Oik yaitu melaporkan semua kegiatannya pada mamanya. Ia sudah terbiasa di manja oleh orang tuanya tetapi ia hanya menanggapinya dengan santai dan tidak mau sampai kelewat manja. Karena dia juga ingin seperti orang lain yang bebas dan mandiri. Maklum saja, ia adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat berkecukupan, ayahnya adalah presdir di sebuah perusahaan ternama di Jakarta.
            “Ya, sayang sekarang kamu mandi sana habis itu istirahat, pasti capek kan menempuh 12 jam.”
            “Ya ma, daaah”
            Oik menutup telponnya, ia juga tidak mau lagi mendengan ocehan – ocehan mamanya yang selalu overprotective padanya. Di usianya yang hampir menginjak 18 tahun ini ia tidak ingin lagi di manja seperti layaknya bayi.
            Ia membuka kopernya dan menyimpun beberapa barang – barangnya di bawanya ke tempatnya masing – masing. Kemudian ia mandi dan setelah itu istirahat dengan tenang.
***
            Jam menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat. Oik baru saja terbangun dari mimpi indahnya sekaligus aneh karena ia bermimpi memiliki seorang putri. Entah apa yang membuatnya bermimpi padahal ia tak pernah memikirkan untuk memiliki seorang putri karena ia merasa belum memiliki naluri keibuan, hanya saja ia selalu ramah kepada semua anak kecil, menurutnya anak itu harus disayangi bukan malah disengsarakan. Ya, seperti layaknya dirinya yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya karena hanya ia lah satu – satunya putri yang diberikan kepercayaan untuk membanggakan orang tuanya.
Aneh, mimpi itu benar – benar seperti nyata. Batinnya. Tanpa memikirkan terlalu panjang lagi, Oik melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan mencuci muka serta menggosok giginya, setelah itu ia mengambil jacketnya dan mulai ke luar kamar hotel untuk mencari udara segar di Jerman sembari mencari sarapan. Tetapi ketika ingin menutup pintu dari luar ia mendengar pintu di depannya juga terbuka, ia mendengar desahan wanita dan pria. Sejenak ia terdiam, lalu membalikkan badannya, dan benar saja suara desahan itu milik seorang wanita dan pria sedang becumbu di depan kamarnya. Menurutnya itu kamar seorang pria karena ciri – ciri pria yang dilihatnya kemarin sama saat ia membelakanginya dan seorang wanita lagi itu bukan wanita kemarin.
Ckckck, lelaki ini seperti PSK saja. Oik menggeleng – gelengkan kepalanya, menurutnya lelaki ini sungguh tidak tahu malu. Diperhatikannya dengan seksama wajah wanita itu, ia mengambil kesimpulan umur wanita itu sekitar 20 tahun dan laki – laki itu?? Entahlah ia tidak ingin memikirkannya. Seketika suasana menjadi hening….. ternyata pria dan wanita itu menyudahi masa bercumbunya dan mulai menatap tajam Oik. Sepertinya mereka baru menyadari kalau di koridor kamar hotel tidak hanya ada mereka sendiri. Mereka agak bingung karena mereka merasa Oik tidak terbiasa dengan adegan percintaan yang mereka lakukan ditempat umum seperti ini. Oik baru kali ini melihat pria tersebut ternyata pria tersebut masih muda, sekitar 18 tahun, ya seumurannya. Sejenak Oik mencerna wajah sang pria tersebut, rambutnya hitam pekat, ya ia sudah menyadarinya saat pertama melihatnya dari belakang, bentuk wajahnya tirus, kulitnya putih, hidung mancung, bentuk bibir yang tipis, dan matanya berwarna coklat muda. Ia agak tergoda dengan pria tersebut namun ia cepat sadar karena ia tidak ingin menjadi perempuan – perempuan yang mengejar pria ini hanya karena ketampanannya. Ia menundukkan kepalanya agar menghindari tatapan pria dan wanita tersebut.
“I’am sorry” kata Oik, ia merasa telah menganggu acara mereka, lagi pula ia agak takut pada tatapan tajam yang mereka lontarkan kepadanya. Tanpa memperdulikan Oik, wanita itu segera berpamitan kepada sang pria, dengan satu kecupan wanita itu beralalu.
Murah banget sih loe . Umpat Oik dalam hati sambil menatap punggung wanita itu.
            “Loe datang dari Indonesia kan?” Oik sangat terkejut karena pria tiba – tiba menegurnya dan pria ini juga menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin saja ia berasal dari Indonesia, batinnya.
Eh, tapi bagaimana dia bisa tau kalau aku dari Indonesia? Ah apapun yang dia katakanya pasti ingin merayuku, aku harus pergi dari sini. Pikirannya melayang – layang dengan fikiran negative kepada pria tersebut. Tanpa memperdulikan pertanyaannya, ia langsung pergi dan meninggalkan pria itu sendiri di depan kamarnya. Tanpa Oik sadari pria itu tersenyum licik. Entah apa yang membuatnya tersenyum, Oik tidak menyadarinya.
***
            Dahaga Oik sudah benar – benar tidak dapat ditahan lagi, begitu ia melihat ada sebuah toko yang menjual minuman dingin, ia langsung menyambarnya. Tubuhnya sangat kelelahan akibat perjalanan yang cukup jauh ditempuh dari Varusslacht Museum and Park, salah satu jenis objek wisata Peringkat No.4.913 di Jerman yang menampilkan berbagai Sejarah Alam dan Museum Benda-Benda Khusus. Suhu yang mencapai 9°C membuatnya sanagt dehidrasi.
            “Was ist das?”
‘Apa itu?’Tanya Oik sambil menunjuk sebuah minuman yang dijajakan di pinggiran Venner Strasse 69.
            “Das ist wodka”
‘Ini adalah vodka’ Oik sebenarnya tidak perduli dengan jenis minuman yang akan ia minum, karena dahaga yang telah menguras sebagian tenaganya dan dia pikir orang – orang yang menjajakan minuman di samping jalan seperti ini pasti minuman biasa – biasa saja. Menurutnya, tidak masalah kalau ia menjadi orang yang so tahu daripada malu – maluin.
            Oik sama sekali tidak mengetahui minuman apa yang ditanyanya itu, ia beranggapan itu hanya minuman soda biasa tetapi minuman tersebut adalah minuman berakohol. Wajar saja ia tidak mengetahui tentang minuman beralkohol karena ia sangat masa bodo dengan hal – hal yang menurutnya negative, dan minum – minuman seperti itulah yang ia tidak tahu.
            “Wieviel Kostet?”
‘Berapa harganya?’ Oik menanyakan harga minuman tersebut.
            “2 Euro” Ia merogoh kantongnya dengan cepat mencari uangnya.
“Danke schön”
“Terima kasih” setelah membayar minumannya, Oik berjalan cepat menuju hotel tempatnya menginap karena malam akan tiba dan ia tidak ingin berkeliaran saat malam disebabkan karena hawa yang sangat dingin dan hal yang lainnya adalah dia tidak ingin menjadi bulan – bulanan preman – preman di Jerman.
***
Sesampainya di lantai 8 ia membuang kaleng minumannya ke tempat sampah dan berjalan menuju kamarnya tetapi sepanjang jalan hanya sakit kepala yang ia rasakan, jalanan yang ada di depannya terlihat menjadi berlipat – lipat ganda. Dia melihat ada seseorang lelaki di depannya, ia menghampirinya dengan berjalan linglung tetapi kakinya terasa lemas hingga ia tidak tahan lagi untuk berdiri. Saat ia ingin terjatuh terasa badannya ditahan oleh dua belah tangan dan seketika itu penglihatannya menjadi gelap.
***
            “Kamu tidak tahu siapa saya, tapi kamu tidak akan lupa dengan saya”Oik mendengar sebuah ucapan yang disertai desahan ditelinganya. Ia agak aneh dengan apa yang baru saja didengarnya, mimpi pikirnya. Ia hanya menggeram kecil, tanpa ia sandari ia sedang tidak sendiri.
***
            Oik tersadar dari tidurnya, sesekali ia mengerejapkan matanya dan meregangkan otot – ototnya yang kaku, ia merasakan badannya habis ditindis dan dicabik – cabik. Ia membangkitkan tubuhnya menjadi posisi duduk.
            “Hah?”ia terkejut dan membulatkan matanya lebar – lebar. Melihat dirinya yang tidak memakai pakaian sama sekali membuatnya lama berfikir, apa yang kulakukan? Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku bisa sampai di kamar ini? Kenapa tidak ada pakaian yang ku kenakan? Siapa yang telah berbuat semua ini? Bertubi – tubi pertanyaan itu ia lontarkan entah kepada siapa ia harus bertanya karena di ruangan itu hanya ia seorang diri.
            Ia bangkit dari tempat tidurnya den berjalan menuju cermin, ia melihat kissmark dan cakaran bertaburan di beberapa bagian tubuhnya. Dipandanginya tubuh yang mungil itu dengan seksama lalu ia berlari menuju tempat tidur menarik selimut yang berada di tempat tidur dan membuangnya ke lantai. Tiba – tiba air matanya mulai bercucuran begitu melihat tanda lingkaran merah yang begitu besar di seprainya yang berwarna putih itu.
            “Nggak mungkin”Pekik Oik hingga terdengar menggema di sudut – sudut kamarnya. Tubuhnya jatuh ke lantai dan terduduk sambil menunduk membiarkan air matanya jatuh membasahi lantai kamarnya.
            Setelah beberapa menit ia menangis, lalu ia berjalan gontai menuju kamar mandi, menyalakan shower dan duduk di bawahnya sambil memeluk lututnya. Ia melanjutkan tangisannya di kamar mandi tersebut dengan isakan yang cukup keras.
Brengsek lo, setan lo, bajingan lo, lo apain badan gue, lo ngambil keperawanan gue seenaknya. Siapa sih lo? Shiit. Umpat Oik dalam hatinya, seumur hidup ia selalu menjaga keperawanannya dan sekarang semuanya dicuri begitu saja. Apa yang akan dia bilang pada orang tuanya kalau anaknya semata wayang yang baru berumur 18 tahun dan belum menikah sudah tidak perawan lagi. Ia berniat akan mengutuk siapa saja yang berani mengambil keperwanannya tanpa ada ikatan perkawinan dan sekarang itu terjadi bahkan yang lebih parahnya lagi, ia sama sekali tidak mengetahui siapa pelakunya.
            Oik memutar kembali kejadian sebelum ia terbangun dari tidurnya itu dan mendapatkan dirinya tanpa busana sedikitpun. Setelah mendapatkan jawaban dari pemutaran ulang kejadian itu ia memikirkan siapa dan siapa lalu siapa yang melakukannya.? Hanya hal itu yang ingin diketahuinya. SIAPA?
Ada satu cowok yang gue temui sebelum pingsan. Cowok itu menangkap badan gue yang mau jatuh di koridor kamar hotel. Berarti dia juga nginap dihotel ini dan dia pasti orang – orang sekitar kamar gue karena dia bisa tau kamar gue dan bawa gue kesini. Tunggu bentar, laki – laki yang baru gue temuin di kamar lantai 8 ini cuma cowok PSK itu. Ya, nggak salah lagi itu dia. Oik memikirkan semuanya dengan matang dan setelah mendapatkan jawabannya ia langsung menghambur ke luar kamarnya lalu menggedor – gedor pintu kamar yang berada di depan kamarnya.
            “Hei, cowok berengsek keluar lo” teriak Oik dengan berbahasa Indonesia, ia tahu lelaki itu mengerti apa yang dikatakannya. Sudah 3 menit Oik menggebrak pintu kamar itu tapi tidak ada orang yang membukakan pintu, tangannya sudah terasa sakit dan kakinya keram akibat sedari tadi hanya menendang – nendang daun pintu. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol satu.
            Setelah sampai di lantai satu, Oik berlari menuju lobby.
            Entschuldigen Sie mich, was Zimmernummer 189 wurde ausgecheckt“
            ‘Permisi, apa kamar nomor 189 telah check out?’ Tanya Oik pada salah satu karyawan yang ada di lobby tersebut, setelah mengecek beberapa data dari wanita itu menghampiri Oik dan mengatakan bahwa penghuni kamar 189 telah check out dari subuh tadi.
            Oh, shiit. Darf ich die Identität des Besitzers des Raumes?“
            ‘Oh, shiit. Boleh saya minta identitas pemilik kamar tersebut?’ Walaupun tidak mendapatkan orangnya ia harus mengetahui seluk – beluk pria tersebut.
            Es tut uns leid, sagte er, wenn jemand nach ihm gesucht wird und bat um seine Identität wir es geheim halten müssen, hat sogar unsere Identität klar gewesen, seit er sie gebeten, es zu entfernen“
            ‘Maaf, dia bilang jika ada yang mencari dirinya dan meminta identitasnya kami harus merahasiakannya, bahkan identitasnya telah kami hapus karena dia memintanya untuk menghapus’
            Was? Sind Sie ernst. Schauen Sie, ich brauche wirklich Identität auf ihn, es ist wirklich wichtig“
            ‘What? Are you serious. Look, saya sangat butuh identitas mengenai dia, ini penting sekali’
            Kann nicht, haben wir es alle zu entfernen.“
            ‘Tidak bisa, kami telah menghapus semuanya.’ Kata wanita itu lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Sialan lo. Nggak punya hati banget. Lo nggak bakal bisa lari dari gue, gue bakal nyari lo dan seumur hidup gue nggak bakal lupain lo. Lo bener, gue memang nggak tau siapa lo, dan gue nggak bakal lupa sama lo. Nggak akan pernah. Lelaki ini ternyata telah membuat Oik sering kali mengumpat, bukan hanya mengumpat saja tetapi membuatnya stress.
***
Ya Oik Cahya Ramadlani lo memang nggak tau siapa gue tapi lo nggak bakalan lupa sama gue. Lo nggak bakal lupain kejadian itu, dan lo nggak bakal lupa sama hal yang pernah gue ambil. Terima kasih atas malamnya, lo luar biasa. Batin seorang lelaki yang kini sedang duduk manis di sebuah kursi pesawat dan memandangi sebuah KTP. Ya, ia mencuri KTP Oik tadi malam saat Oik tertidur. Sebuah seyum terkembang dari bibirnya, senyum yang menandakan kemenangan.
***
            Aber er sagte uns, zu sagen, die Namen zu nennen. Er will, dass du es 'K' nennen“
‘Tapi dia berpesan kepada kami untuk memberitahukan nama panggilannya kepada Anda. Ia ingin Anda menyebutnya ‘K’’Tiba – tiba wanita itu memecah pikiran Oik yang sedang melayang.
Hah? K? nur K“
            ‘Hah? K? just K?’ kagetnya.
            “Ya.” Wanita itu mengangguk.
            “Ooh, Shiit” Oik menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dia benar – benar frustasi dengan lelaki ini. Bagaimana dia bisa mencari lelaki ini? Sedangkan asal – usulnya saja ia tidak tahu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar