Baby From The Devil
Oik
tiba di banda udara Frankfurt, Ia datang ke Jerman untuk berlibur karena baru
saja lulus dari bangku SMA. Dia meminta orang tuanya untuk memberikan sedikit
ruang untuk refreshing lantaran baru
saja menghadapi Ujian yang begitu menguras otak, kesabaran, dan tenaga. Sebenarnya
ini untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke negeri Jerman tersebut.
Tapi dengan berbekal ilmu yang pernah ia pelajari saat bangku SMA, ia jadi
mengetahui apa saja yang ada di Jerman termasuk semua wisata yang banyak
dikunjungi para artis Hollywood saat berlibur di neraga ini.
Oik
menggeret kopernya ke luar bandara lalu mencari taksi untuk mengantarnya ke
hotel tempat dimana dia akan menginap beberapa minggu saat di Jerman.
Setelah
sampai Landhotel St. Gereon,
Oik memesan kamar tidur untuk 1 orang dengan ukuran king yang barada di lantai 8 dengan nomor kamar yaitu 188. Oik
berjalan di korodor lantai 8 dan saat menuju kamarnya ia melihat seorang laki –
laki sedang mencumbui seorang wanita yang berpakaian sexy di depan kamarnya.
Huh
menjijikan. Umpat Oik dalam hati melihat
pemandangan yang sangat ia benci yaitu bercumbu di depan umum. Apa nggak ada tempat lain lagi ya? Selain di
depan pintu hotel. Mengenaskan sekali kalian. Cibir Oik lagi dalam hati. Ia tidak melihat jelas si pria karena
membelakanginya dan wanita yang bersamanya juga terlihat samar – samar
dilihatnya. Oik mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke kamarnya agar
tidak bisa melihat pemandangan yang mengenasakan itu lebih lama lagi.
Oik
menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya dan mengambil handphonenya yang berada di saku celana jeansnya lalu mengutak
–atik tombolnya. Ia akan menelpon mamanya yang sekarang berada di Indonesia.
“Hallo”
“Hallo,
ma Oik sudah sampai hotel nih” Lapor Oik pada mamanya. Ya, ini lah yang sering
dilakukan Oik yaitu melaporkan semua kegiatannya pada mamanya. Ia sudah
terbiasa di manja oleh orang tuanya tetapi ia hanya menanggapinya dengan santai
dan tidak mau sampai kelewat manja. Karena dia juga ingin seperti orang lain
yang bebas dan mandiri. Maklum saja, ia adalah anak tunggal dari keluarga yang
sangat berkecukupan, ayahnya adalah presdir di sebuah perusahaan ternama di
Jakarta.
“Ya, sayang sekarang kamu mandi sana habis
itu istirahat, pasti capek kan menempuh 12 jam.”
“Ya
ma, daaah”
Oik
menutup telponnya, ia juga tidak mau lagi mendengan ocehan – ocehan mamanya
yang selalu overprotective padanya. Di
usianya yang hampir menginjak 18 tahun ini ia tidak ingin lagi di manja seperti
layaknya bayi.
Ia
membuka kopernya dan menyimpun beberapa barang – barangnya di bawanya ke
tempatnya masing – masing. Kemudian ia mandi dan setelah itu istirahat dengan
tenang.
***
Jam
menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat. Oik baru saja terbangun dari mimpi
indahnya sekaligus aneh karena ia bermimpi memiliki seorang putri. Entah apa
yang membuatnya bermimpi padahal ia tak pernah memikirkan untuk memiliki
seorang putri karena ia merasa belum memiliki naluri keibuan, hanya saja ia
selalu ramah kepada semua anak kecil, menurutnya anak itu harus disayangi bukan
malah disengsarakan. Ya, seperti layaknya dirinya yang selalu mendapatkan
perhatian lebih dari kedua orang tuanya karena hanya ia lah satu – satunya
putri yang diberikan kepercayaan untuk membanggakan orang tuanya.
Aneh,
mimpi itu benar – benar seperti nyata. Batinnya. Tanpa
memikirkan terlalu panjang lagi, Oik melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan
mencuci muka serta menggosok giginya, setelah itu ia mengambil jacketnya dan
mulai ke luar kamar hotel untuk mencari udara segar di Jerman sembari mencari
sarapan. Tetapi ketika ingin menutup pintu dari luar ia mendengar pintu di
depannya juga terbuka, ia mendengar desahan wanita dan pria. Sejenak ia terdiam,
lalu membalikkan badannya, dan benar saja suara desahan itu milik seorang
wanita dan pria sedang becumbu di depan kamarnya. Menurutnya itu kamar seorang
pria karena ciri – ciri pria yang dilihatnya kemarin sama saat ia
membelakanginya dan seorang wanita lagi itu bukan wanita kemarin.
Ckckck,
lelaki ini seperti PSK saja. Oik menggeleng –
gelengkan kepalanya, menurutnya lelaki ini sungguh tidak tahu malu.
Diperhatikannya dengan seksama wajah wanita itu, ia mengambil kesimpulan umur
wanita itu sekitar 20 tahun dan laki – laki itu?? Entahlah ia tidak ingin
memikirkannya. Seketika suasana menjadi hening….. ternyata pria dan wanita itu
menyudahi masa bercumbunya dan mulai menatap tajam Oik. Sepertinya mereka baru
menyadari kalau di koridor kamar hotel tidak hanya ada mereka sendiri. Mereka
agak bingung karena mereka merasa Oik tidak terbiasa dengan adegan percintaan
yang mereka lakukan ditempat umum seperti ini. Oik baru kali ini melihat pria
tersebut ternyata pria tersebut masih muda, sekitar 18 tahun, ya seumurannya.
Sejenak Oik mencerna wajah sang pria tersebut, rambutnya hitam pekat, ya ia
sudah menyadarinya saat pertama melihatnya dari belakang, bentuk wajahnya
tirus, kulitnya putih, hidung mancung, bentuk bibir yang tipis, dan matanya berwarna
coklat muda. Ia agak tergoda dengan pria tersebut namun ia cepat sadar karena
ia tidak ingin menjadi perempuan – perempuan yang mengejar pria ini hanya
karena ketampanannya. Ia menundukkan kepalanya agar menghindari tatapan pria
dan wanita tersebut.
“I’am sorry” kata Oik,
ia merasa telah menganggu acara mereka, lagi pula ia agak takut pada tatapan
tajam yang mereka lontarkan kepadanya. Tanpa memperdulikan Oik, wanita itu
segera berpamitan kepada sang pria, dengan satu kecupan wanita itu beralalu.
Murah
banget sih loe . Umpat Oik dalam hati sambil menatap
punggung wanita itu.
“Loe
datang dari Indonesia kan?” Oik sangat terkejut karena pria tiba – tiba
menegurnya dan pria ini juga menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin saja ia
berasal dari Indonesia, batinnya.
Eh,
tapi bagaimana dia bisa tau kalau aku dari Indonesia? Ah apapun yang dia
katakanya pasti ingin merayuku, aku harus pergi dari sini. Pikirannya
melayang – layang dengan fikiran negative
kepada pria tersebut. Tanpa memperdulikan pertanyaannya, ia langsung pergi dan
meninggalkan pria itu sendiri di depan kamarnya. Tanpa Oik sadari pria itu
tersenyum licik. Entah apa yang membuatnya tersenyum, Oik tidak menyadarinya.
***
Dahaga
Oik sudah benar – benar tidak dapat ditahan lagi, begitu ia melihat ada sebuah
toko yang menjual minuman dingin, ia langsung menyambarnya. Tubuhnya sangat
kelelahan akibat perjalanan yang cukup jauh ditempuh dari Varusslacht Museum and Park, salah satu jenis objek wisata
Peringkat No.4.913 di Jerman yang menampilkan berbagai Sejarah Alam dan Museum
Benda-Benda Khusus. Suhu yang mencapai 9°C membuatnya sanagt dehidrasi.
“Was
ist das?”
‘Apa itu?’Tanya Oik
sambil menunjuk sebuah minuman yang dijajakan di pinggiran Venner Strasse 69.
“Das
ist wodka”
‘Ini adalah vodka’ Oik
sebenarnya tidak perduli dengan jenis minuman yang akan ia minum, karena dahaga
yang telah menguras sebagian tenaganya dan dia pikir orang – orang yang
menjajakan minuman di samping jalan seperti ini pasti minuman biasa – biasa
saja. Menurutnya, tidak masalah kalau ia menjadi orang yang so tahu daripada
malu – maluin.
Oik
sama sekali tidak mengetahui minuman apa yang ditanyanya itu, ia beranggapan
itu hanya minuman soda biasa tetapi minuman tersebut adalah minuman berakohol.
Wajar saja ia tidak mengetahui tentang minuman beralkohol karena ia sangat masa
bodo dengan hal – hal yang menurutnya negative,
dan minum – minuman seperti itulah yang ia tidak tahu.
“Wieviel
Kostet?”
‘Berapa harganya?’ Oik
menanyakan harga minuman tersebut.
“2
Euro” Ia merogoh kantongnya dengan cepat mencari uangnya.
“Danke schön”
“Terima kasih” setelah
membayar minumannya, Oik berjalan cepat menuju hotel tempatnya menginap karena
malam akan tiba dan ia tidak ingin berkeliaran saat malam disebabkan karena
hawa yang sangat dingin dan hal yang lainnya adalah dia tidak ingin menjadi
bulan – bulanan preman – preman di Jerman.
***
Sesampainya di lantai 8
ia membuang kaleng minumannya ke tempat sampah dan berjalan menuju kamarnya
tetapi sepanjang jalan hanya sakit kepala yang ia rasakan, jalanan yang ada di
depannya terlihat menjadi berlipat – lipat ganda. Dia melihat ada seseorang lelaki
di depannya, ia menghampirinya dengan berjalan linglung tetapi kakinya terasa
lemas hingga ia tidak tahan lagi untuk berdiri. Saat ia ingin terjatuh terasa
badannya ditahan oleh dua belah tangan dan seketika itu penglihatannya menjadi
gelap.
***
“Kamu
tidak tahu siapa saya, tapi kamu tidak akan lupa dengan saya”Oik mendengar
sebuah ucapan yang disertai desahan ditelinganya. Ia agak aneh dengan apa yang
baru saja didengarnya, mimpi pikirnya. Ia hanya menggeram kecil, tanpa ia
sandari ia sedang tidak sendiri.
***
Oik
tersadar dari tidurnya, sesekali ia mengerejapkan matanya dan meregangkan otot
– ototnya yang kaku, ia merasakan badannya habis ditindis dan dicabik – cabik.
Ia membangkitkan tubuhnya menjadi posisi duduk.
“Hah?”ia
terkejut dan membulatkan matanya lebar – lebar. Melihat dirinya yang tidak
memakai pakaian sama sekali membuatnya lama berfikir, apa yang kulakukan? Apa
yang terjadi denganku? Mengapa aku bisa sampai di kamar ini? Kenapa tidak ada
pakaian yang ku kenakan? Siapa yang telah berbuat semua ini? Bertubi – tubi
pertanyaan itu ia lontarkan entah kepada siapa ia harus bertanya karena di
ruangan itu hanya ia seorang diri.
Ia
bangkit dari tempat tidurnya den berjalan menuju cermin, ia melihat kissmark dan cakaran bertaburan di
beberapa bagian tubuhnya. Dipandanginya tubuh yang mungil itu dengan seksama
lalu ia berlari menuju tempat tidur menarik selimut yang berada di tempat tidur
dan membuangnya ke lantai. Tiba – tiba air matanya mulai bercucuran begitu
melihat tanda lingkaran merah yang begitu besar di seprainya yang berwarna
putih itu.
“Nggak
mungkin”Pekik Oik hingga terdengar menggema di sudut – sudut kamarnya. Tubuhnya
jatuh ke lantai dan terduduk sambil menunduk membiarkan air matanya jatuh
membasahi lantai kamarnya.
Setelah
beberapa menit ia menangis, lalu ia berjalan gontai menuju kamar mandi, menyalakan
shower dan duduk di bawahnya sambil memeluk lututnya. Ia melanjutkan
tangisannya di kamar mandi tersebut dengan isakan yang cukup keras.
Brengsek
lo, setan lo, bajingan lo, lo apain badan gue, lo ngambil keperawanan gue
seenaknya. Siapa sih lo? Shiit. Umpat Oik dalam
hatinya, seumur hidup ia selalu menjaga keperawanannya dan sekarang semuanya
dicuri begitu saja. Apa yang akan dia bilang pada orang tuanya kalau anaknya
semata wayang yang baru berumur 18 tahun dan belum menikah sudah tidak perawan
lagi. Ia berniat akan mengutuk siapa saja yang berani mengambil keperwanannya
tanpa ada ikatan perkawinan dan sekarang itu terjadi bahkan yang lebih parahnya
lagi, ia sama sekali tidak mengetahui siapa pelakunya.
Oik
memutar kembali kejadian sebelum ia terbangun dari tidurnya itu dan mendapatkan
dirinya tanpa busana sedikitpun. Setelah mendapatkan jawaban dari pemutaran
ulang kejadian itu ia memikirkan siapa dan siapa lalu siapa yang melakukannya.?
Hanya hal itu yang ingin diketahuinya. SIAPA?
Ada
satu cowok yang gue temui sebelum pingsan. Cowok itu menangkap badan gue yang
mau jatuh di koridor kamar hotel. Berarti dia juga nginap dihotel ini dan dia
pasti orang – orang sekitar kamar gue karena dia bisa tau kamar gue dan bawa
gue kesini. Tunggu bentar, laki – laki yang baru gue temuin di kamar lantai 8
ini cuma cowok PSK itu. Ya, nggak salah lagi itu dia.
Oik memikirkan semuanya dengan matang dan setelah mendapatkan jawabannya ia
langsung menghambur ke luar kamarnya lalu menggedor – gedor pintu kamar yang
berada di depan kamarnya.
“Hei,
cowok berengsek keluar lo” teriak Oik dengan berbahasa Indonesia, ia tahu
lelaki itu mengerti apa yang dikatakannya. Sudah 3 menit Oik menggebrak pintu
kamar itu tapi tidak ada orang yang membukakan pintu, tangannya sudah terasa
sakit dan kakinya keram akibat sedari tadi hanya menendang – nendang daun
pintu. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol satu.
Setelah
sampai di lantai satu, Oik berlari menuju lobby.
“Entschuldigen Sie mich, was Zimmernummer
189 wurde ausgecheckt“
‘Permisi,
apa kamar nomor 189 telah check out?’ Tanya Oik pada salah satu karyawan yang
ada di lobby tersebut, setelah
mengecek beberapa data dari wanita itu menghampiri Oik dan mengatakan bahwa
penghuni kamar 189 telah check out dari subuh tadi.
“Oh, shiit. Darf ich
die Identität des Besitzers des Raumes?“
‘Oh,
shiit. Boleh saya minta identitas pemilik kamar tersebut?’ Walaupun tidak
mendapatkan orangnya ia harus mengetahui seluk – beluk pria tersebut.
“Es tut uns leid, sagte er, wenn jemand nach ihm gesucht wird und
bat um seine Identität wir
es geheim halten müssen, hat sogar unsere Identität klar gewesen, seit er
sie gebeten, es zu entfernen“
‘Maaf,
dia bilang jika ada yang mencari dirinya dan meminta identitasnya kami harus
merahasiakannya, bahkan identitasnya telah kami hapus karena dia memintanya
untuk menghapus’
“Was? Sind Sie ernst.
Schauen Sie, ich brauche wirklich
Identität auf ihn, es ist
wirklich wichtig“
‘What?
Are you serious. Look, saya sangat butuh identitas mengenai dia, ini penting
sekali’
“Kann nicht, haben wir es alle zu entfernen.“
‘Tidak
bisa, kami telah menghapus semuanya.’ Kata wanita itu lagi sambil menggelengkan
kepalanya.
Sialan
lo. Nggak punya hati banget. Lo nggak bakal bisa lari dari gue, gue bakal nyari
lo dan seumur hidup gue nggak bakal lupain lo. Lo bener, gue memang nggak tau
siapa lo, dan gue nggak bakal lupa sama lo. Nggak akan pernah.
Lelaki ini ternyata telah membuat Oik sering kali mengumpat, bukan hanya
mengumpat saja tetapi membuatnya stress.
***
Ya
Oik Cahya Ramadlani lo memang nggak tau siapa gue tapi lo nggak bakalan lupa
sama gue. Lo nggak
bakal lupain kejadian itu, dan lo nggak bakal lupa sama hal yang pernah gue
ambil. Terima kasih atas malamnya, lo luar biasa. Batin seorang lelaki yang
kini sedang duduk manis di sebuah kursi pesawat dan memandangi sebuah KTP. Ya,
ia mencuri KTP Oik tadi malam saat Oik tertidur. Sebuah seyum terkembang dari
bibirnya, senyum yang menandakan kemenangan.
***
“Aber er sagte uns, zu
sagen, die Namen zu nennen. Er
will, dass du es 'K'
nennen“
‘Tapi dia berpesan
kepada kami untuk memberitahukan nama panggilannya kepada Anda. Ia ingin Anda
menyebutnya ‘K’’Tiba – tiba wanita itu memecah pikiran Oik yang sedang
melayang.
“Hah? K? nur K“
‘Hah?
K? just K?’ kagetnya.
“Ya.”
Wanita itu mengangguk.
“Ooh,
Shiit” Oik menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dia benar – benar frustasi
dengan lelaki ini. Bagaimana dia bisa mencari lelaki ini? Sedangkan asal – usulnya
saja ia tidak tahu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar