Saat Sivia pulang dari
rumah Oik ia masih kepikiran dengan mata itu. Mata yang tidak asing lagi
baginya, entah apa yang membuatnya berfikiran seperti itu. Ataukah itu benar
mata milik seseoang yang sangat ia kenal.? Itu mata Cakka, jelas sekali itu
mata yang sangat sering dilihatnya.
Ah,
hanya kebetulan saja, tidak mungkin Cakka melakukan itu. Batinnya
kemudian ia terlelap. Mulai saat itu ia tidak pernah lagi memikirkan masalah
mata itu. Semua orang bisa saja kebetulan memiliki mata yang sama sebab Tuhan
memiliki kuasa lain atas kehendaknya.
Hari berganti minggu,
minggu berganti bulan, bulan bergaanti tahun, dan tahun berganti masa. Sudah 6
tahun sejak kejadian itu, Chika tumbuh sebagai anak yang cerdas, di umurnya
yang baru menginjak 4 tahun ia begitu pintar menyebutkan huruf – huruf abjad.
Sewaktu umurnya menginjak 1 tahun, Oik mengajarkannya bahasa Indonesia,
Inggris, dan Jerman karena kelak lulus kuliah maka ia akan kembali lagi ke
Indonesia. Mungkin saja karena asi yang diberikan Oik selama ini membuat Chika
tumbuh menjadi anak yang menurutnya luar biasa tetapi sayangnya ia tidak
mempunyai ayah selayakya teman-temannya kini. Oik benar – benar tidak bisa
melupakan K. Makin hari, ia jadi rindu pada K. Entah itu rindu karena cinta
atau karena benci. Oik juga bingung karena setiap melihat butiran – butiran
kristal milik Chika membuatnya tidak bisa menghilangkan K dari kehidupannya.
Apalagi saat Chika menanyakan tentang ayahnya. Ia selalu mencari kata – kata yang
tepat agar anaknya percaya dengan semua ceritanya. Mulai dari menceritakan K
itu adalah pacarnya yang menghamilinya saat pacaran dan tiba – tiba meninggal
akibat kecelakaan pesawat saat akan ke Indonesia. K adalah anak orang yang tak
berada dan tak memiliki ayah dan ibu. Oik menceritakan kebohongan itu kepada
anaknya agar kelak anaknya tidak akan mencari semua yang berhubungan dengan K.
Oik juga tidak memberi tahu nama K kepada anaknya dengan berkata kalau dia
menyebutkan namanya ia pasti akan merasa sedih. Tapi,bukan itu sebab yang
sebenarnya, melainkan ia sendiri hanya mengetahui namanya dengan K. Entah apa
yang dimaksud dengan K itu, namanya, atau nomor blok rumahnya, atau jangan –
jangan vitamin yang sering diminumnya setiap hari. Lelaki itu penuh tanda
tanya, fikirnya.
“Bun,
aku mau ice cream yang itu”rengek seorang gadis kecil pada mamanya. Mereka
sedang duduk di kursi taman The Wadden Sea
yaitu objek wisata dengan area wisata alam, musim panas kali ini membuat semua
masyarakat Jerman turun ke jalan untuk menikmati musim panas yang sangat jarang
di Negara ini.
“Ya
sudah Chika tunggu di sini yah, biar bunda belikan dulu” Oik beranjak dari
kursi itu dan berlalu menuju sebuah mobil yang menjajakan banyak sekali
berbagai macam Ice Cream. Tanpa Oik sadari, Chika melihat seorang pria yang
memakai pakaian serba hitam menatap ke arahnya dari ke jauhan. Mulai dari jas,
celana, sepatu, dasi, dan topi berwarna hitam hanya kulitnya yang terlihat
putih. Chika terus saja membalas tatapan pria itu dengan tatapan bingung, namun
berbeda dengan pria itu, ia menatap Chika dengan tatapan yang datar – datar
saja.
Terlalu
asyik memperhatikan pria yang ada di seberang jalan sana, Chika sampai tak
sadar bahwa bundanya sudah berada di sampingnya sambil menatapnya heran.
“Chika…
kamu kenapa sayang?”Tanya Oik cemas. Chika mengalihkan pandangannya ke arah
bunda kesayangannya itu.
“Bunda
pria itu memperhatikan kita dari tadi”Kata Chika sambil menunjuk ke seberang
jalan. Tetapi saat Oik mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Chika ia
tidak melihat siapa – siapa. “Loh, kok nggak ada tadi Chika melihat pria berpakaian
serba hitam di sana bunda.”Ucap Chika meyakinkan Oik, ia tidak ingin dikatakan
berbohong oleh ibunya.
“Oh
mungkin itu halusinasi Chika aja, makanya jangan keseringan nonton Chaplin
terus. Yuk kita jalan – jalan, hurry up sweety.”Ajak Oik pada anaknya. Dan
mereka menghabiskan musim panas dengan ceria. Tanpa mereka sadari seseorang berada
di belakang mereka dengann mengabadikan moment
mereka dengan sembunyi – sembunyi.
***
“Hei
Ik, kok lo baru datang sih”Ucap seseorang gadis yang barusaja melihat
kedatangan Oik dengan terburu – buru.
“Sorry,
gue tadi mampir ke toko kue dulu.”
“Oh,
ya ampun gue lupa, anak lo kan ulang tahun hari ini. Aduh gue belum beliin kado
loh Ik. Maaf yah gue bener – bener lupa.”
“Ya.
nggak apa kok Vi. Jangan lupa pulangan ini kita seperti biasanya yah.”Ajak Oik.
“Oke,
pastipasti”
Oik
dan Sivia sedang mendengarkan pidato dari seorang dosen yang akan mengiringi
pelepasan status mereka sebagai mahasiswa. Sudah 5 tahun mereka mengemban
pendidikan di kampus tersebut dan sudah 5 tahun juga mereka bersahabat. Suka
dan duka mereka lewati bersama – sama, tak lupa dengan Chika yang membuat hari
– hari mereka semakin berwarna. Sangking akrabnya mereka berdua, sampai –
sampai Oik menganggap Sivia sebagai saudaranya sendiri dan Chika pun begitu,
menganggap Sivia sebagai Aunty satu – satunya. Dan tibalah saat – saat seperti
ini, memakai baju toga, menerima ijazah dan penghargaan. Mereka mengikuti acara
wisuda dengan hikmat, ada senang bercampur sedih. Senang karena akan menjalani
hidup yang keras di luar sana dan yang sedihnya harus meninggalkan kenangan –
kenangan yang pernah dilewati.
Begitu
acara selesai, Oik menjemput Chika di taman bermainnya, ia sering menitipkan
Chika di taman bermain ini selagi ia pergi ke kampusnya. Untung saja Chika
tidak rewel sama sekali. Anak semata wayangnya ini sangat pintar, ia bisa
mengerti posisi bundanya yang masih menggengam status mahasiswa, lagi pula di
taman bermainnya itu ia memiliki teman yang banyak, keramahan yang diberikan
Chika kepada semua teman – temannya membuatnya di senangi oeh semua temannya
hingga ia tidak terlalu memikirkan Oik.
“Hei,
Sayang kamu kenapa, bunda panggil – panggil dari tadi kok nggak dijawab sih?”Oik
agak cemas karena dari tadi ia memanggil – manggil nama Chika dari kejauhan
tapi yang punya nama tidak bergeming.
“Bunda,
tadi ada yang datang terus ngasihin ini ke Chika” Chika menyodorkan sebuah
kotak perhiasan dan berisi sebuah cincin. Oik menjadi semakin bingung. Ia
menatap anaknya dengan mengerenyitkan dahi. Chika yang tahu perubahan dari
mimik wajah Oik langsung angkat bicara.
“Dia
pacarnya aunty Sivia.” Oik bingung sebingungnya. Sivia tidak pernah menyinggung
tentang pacarnya selama ini, tapi kenapa tiba – tiba orang itu bisa menemui
Chika.
“Jelasin
ke bunda, apa maksudnya ini Chika? Bunda sama sekali nggak ngerti”Oik
mengangkat kotak perhiasan itu di depan wajah Chika.
“Tadi
ada orang yang datangin Chika dan kasih itu sama Chika. Dia bilang itu buat
bunda, jadi Chika tanya namanya katanya dia pacar aunty Sivia,”Jelas Chika
sesuai dengan keadaan yang terjadi.
“Hanya
itu?”
“Ya”
Jawab Chika mantap sambil menganggukkan kepalanya. Memangnya sejak kapan aunty
Via punya pacar bun?”kata Chika dengan logat – logat anak kecilnya.
“Ya
bunda juga nggak tahu, nanti kita tanyain ke aunty Sivia aja deh.”Oik sedikit
agak menegerti dengan ucapan Chika walaupun tidak secara detail menjeaskan, ia
mengerti apa yang diucapkan anaknya itu.
“Eh,
yuk kita pulang, kita rayain Birthday kamu di rumah sama aunty Via. Dia pasti
sudah beliin Chika kado yang banyak”Oik dan Chika meninggalkan taman bermain.
Tetapi sepanjang perjalanan, hati Oik semakin tidak tenang. Entah mengapa
cincin itu membuatnya sangat penasaran siapa gerangan yang memberikan cincin
ini? Kenapa ia harus memberikan sebuah cincin? Dan apa arti semua ini? Pacar
Sivia? Oh semuanya membuat Oik setres berat memikirkannya.
Hal
misterius apa lagi ini? Siapa dibalik semua ini? Pacar Sivia? Kalau dia memang
pacar Sivia kenapa harus ngasih cincin segala? Apa Sivia harus tau semuanya?
Kalau dia tau gue harus bilang apa? Bagaimana kalau dia berfikiran aneh-aneh
tentang gue? Dia bisa saja berfikiran kalau gue mau ngerebut pacarnya dan jadi
selingkuhannya. Gue harus sembunyiin ini. Gue nggak mau hanya karena cincin dan
orang misterius ini persahabatan gue rusak. Maafin gue Vi, gue nggak mau
nyakitin lo.
Oik
dan Chika sampai di rumah dengan selamat, terlihat di pelataran rumah, Sivia
sedang berdiri menunggu mereka. Sebelum turun Oik meminta Chika jangan
memberitahukan Sivia tentang cincin yang katanya diberikan oleh pacarnya Sivia
dan Chika pun mengerti. Oh, Chika begitu pintar, tak ayal jika Oik sering
menyebutnya malaikat kecilnya karena Chika selalu tau apa yang diinginkan
bundanya itu.
Oik
dan Chika turun dari taxi dan berjalan menuju Sivia dengan santai dan menganggap
tak ada yang terjadi sama sekali. Mereka pun merayakan pesta kecil-kecilan
dengan ceria, dalam hati Oik jika ia tadi memberitahukan tentang kejadian tadi
pada Sivia mungkin saja pesta anak tersayangnya ini tidak akan jadi pesta yang
seceria ini.
***
Oik,
Sivia, dan Chika berjalan ke luar bandara Sukarno-Hatta. Mereka baru saja
datang ke Indonesia, karena sudah menyandang sebagai sarjana Oik dan Sivia
meninggalkan Jerman. Mereka sangat rindu pada Negara kelahirannya ini,
terkecuali Chika. Ya, Chika baru saat ini menginjakkan kakinya di Indonesia karena
selama ini Chika tidak pernah berkunjung ke Indonesia sekalipun saat liburan
natal.
Oik
melambaikan tangannya kepada ayah dan ibunya yang sedang berada di sebelah BMW
berwarna hitam. Chika yang melihat kakek dan neneknya langsung berlari kearah
pasangan suami istri itu.
“Grosmutter,
Grosvater….”pekik Chika lalu memeluk keduanya.
‘Nenek,
kakek’
“Eh,
cucu kakek makin tambah besar aja”Ucap Dayat sambil mengendong Chika. Oik dan
Sivia menghampiri sepasang suami istri itu lalu mencium tangan mereka.
“Anak
lo masih aja pake bahasa Jerman padahal mukanya Asia banget”Oik hanya terkekeh
pelan.
“Eh
Sivia ikut kami aja sekalian”ajak Zevana.
“Nggak
usah tante, aku sudah dijemput, paling bentar lagi nyampe. Lagipula rumah kita
nggak sejalur lagi”
“Oh
Oik sudah cerita yah kalau kami sudah pindah rumah?”
“Sudah
tan” Jawab Sivia lalu tersenyum.
“Ya
sudah kalau gitu kami pulang dulu yah, nanti sering – sering main ke rumah”ujar
Dayat.
“Ya,
om”ucap Sivia.
“Kalau
gitu gue pulang duluan ya Vi, nggak apa kan?”pamit Oik
“Gue
udah gede kali Ik, nggak usah dimanjain lagi”
“Ya,
gue tau”Kata Oik sambil mengacak – acak rambut Sivia. Bersahabat dengan Sivia
membuat Oik terlihat lebih tua daripada Sivia mungkin saja karena naluri
keibuannya sering muncul padahal umur mereka setara.
“Aufwidersehen
aunty”Pekik Chika sambil melambaikan tangannya ke arah Sivia.
“Aufwidersehen
Swetty”balas Sivia.
‘Sampai
Jumpa’
Setelah
mobil Oik meninggalkan bandara, tidak lama kemudian sebuah mobil Sport berhenti
di depan Sivia. Sesosok pemuda turun dari mobil itu dan menghampiri Sivia.
“Tambah
cantik aja lo”Ucap lelaki tersebut dengan gayanya yang cool. Jas creamnya itu
menunjukkan bahwa dirinya baru saja pulang dari kantor.
“Oh
ya? Makasih”ucap Sivia malu-malu.
“Eh
lo nggak pernah berubah yah”Katanya lalu mengacak-acak rambutnya yang ikal itu.
Sentuhan itu, sentuhan yang sudah lama ia tidak merasakannya. Kasih sayangnya
sudah lama sekali tidak pernah dirasakannya.
“Masa
sih?, ya udah yuk pulang aja langsung.”Ajak Sivia.
“Ya,
sayang orang-orang sudah nunggin tuh”Sivia dan Lelaki tersebut masuk ke dalam
mobil dan langsung meninggalkan bandara.
***
Oik merasa hatinya sangat tidak bersahabat,
sepeninggalan dari bandara rasanya ia ingin kembali ke sana. Entah apa yang
menggugah hatinya untuk kembali ke bandara. Sepanjang perjalanan ia hanya
terdiam dan sesekali menengok ke belakang, hatinya terasa gelisah tetapi
kerisauan Oik itu tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.
“Bunda
kenapa? Kok dari tadi gelisah.” Bisik Chika ke arah Oik yang sedang berada di
sampingnya. Rupanya Chika selalu tahu apa yang Oik rasakan.
“Tidak
apa-apa sayang, bunda cuma merasa khawatir dengan aunty Sivia”alibi Oik.
Sebenarnya bukan itu yang ia rasakan, tetapi rasa yang lain entah apakah itu,
ia sendiri tidak mengetahuinya. Chika mengangguk dan kembali ke posisinya
semula. Oik hanya mengendus nafas lega sebab anaknya itu tidak banyak bertanya
tentang suasana hatinya kali ini. Hatinya benar-benar tidak bisa berhenti
menggodanya untuk menengok ke belakang, rupanya hal itu masih berada di dalam
hatinya. Tiba-tiba Chika mengenggam tangannya dan memeluknya dari samping.
“Alles
gute, mutter”Ucap Chika lalu tersenyum.
‘Semua
baik-baik saja, bunda’
Disandarkannya
kepalanya itu ke dada Oik dan mulai tertidur selama perjalanan. Hal itu membuat
Oik sedikit menghilangkan suasana hatinya yang justru membingungkan dirinya
sendiri.
Apa
ini? Gue rasa ada yang ketinggalan waktu di bandara tadi. Tapi apa? Ck.
***
“Gimana
perjalanan lo?”tanya lelaki tersebut memecah keheningan. Lama tidak bertemu
membuat mereka malu untuk berargumentasi. Apalagi Sivia bergidik ngeri karena
harus berhadapan lagi dengan lelaki ini. Lelaki yang dulu menurutnya ayah dari
Chika karena bola mata itu. Melihatnya lagi semakin membuatnya merasa yakin
bahwa dugaannya benar. Tetapi ia tidak mau mempertimbangkannya saat ini, tidak
mungkin lelaki disampingnya ini melakukan hal seperti itu.
“Alles
gute, gue udah biasa kali, jadi nggak perlu jetlag kalau udah nyampe” Ucap
Sivia datar. Sebenarnya bukan itu yang dimaksud lelaki tersebut.
“Lo
ketemu orang Indonesia juga nggak selama perjalanan?” tanya lelaki itu lagi,
agar lebih mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
“Ya,
Oik dan Chika, mereka sayang sama gue, tadi mereka juga pulang ke sini dan
menetap di sini.” Ucap Sivia mulai antusias.
“Oh
yang lo bilang tinggal sama lo itu?” tanyanya memastikan. Inilah jawaban yang
diharapkan lelaki itu, entah mengapa ia ingin sekali mendengar perkembangan Oik
dan Chika.
“Ya”jawab
Sivia singkat.
“Eh
lo bawa oleh-oleh apa buat gue?”tanya lelaki tersebut mengalihkan pembicaraan.
“Gue
nggak bawain buat lo, gue cuma beliin bunda. Lagipula lo kan sudah sering
keluar negri jadi beli aja sendiri.”
“Enak
aja lo, masa cuma bunda aja yang dibeliin? Buat kakak lo yang paling ganteng
mana?”
“Hidih,
pede amat lo. Kalau lo ganteng kenapa belum ada cewe yang nyangkut ke elo.?”
“Ya
karena gue belum mau punya aja”Ucapnya narsis tapi tetap dengan posisinya yang
sedang menyetir.
“Halaah,
bilang aja nggak ada yang mau.”
“Ya,
nanti gue cari sepuluh deh biar bisa ganti-ganti tiap hari” Sivia hanya tertawa
pelan melihat tingkah laku kakaknya yang narsis itu.
Gue
cuma nungguin dia Vi, lo tenang aja bentar lagi gue bakal dapatin apa yang gue
mau. Ik, tungguin gue.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar