Jam telah menunjukkan pukul 09.00, waktunya Oik
menjemput Chika di sekolah barunya. Tapi ia belum juga beranjank dari tempat
duduknya. Ia menopangkan wajahnya dengan tumpuan siku tangannya, matanya lurus
memandang ke depan, dan ada sebutir air mata yang mengalir di pipinya.
Ada
apa dengan perasaan gue? Kenapa setelah ketemu bajingan itu perasaan gue jadi
nggak karuan begini? Cakka, Cakka K. Nuraga…
Oik
mengerang kesal sambil menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Frustasi akan kejadian hari ini yang begitu menguak pikirannya. Ia masih
terkejut dengan kehadiran seseorang yang telah membuatnya hancur selama ini,
orang yang mengubah hidupnya.
“Cukup
sudah! Bastard!”geramnya lalu beranjak dari kursinya dan pergi begitu saja.
***
Oik
melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, kemarahan dalam dirinya sedang
berpesta. Dan dengan sekejap langkah itu terhenti seperti di rem cakram,
matanya membulat, tatapannya tajam dan menyiratkan kebencian. Bagaimana tidak,
ia melihat seorang lelaki sedang menggiring Chika ke dalam sebuah mobil sport
dengan riangnya anak kesayangannya itu mengikuti lelaki yang ingin
dienyahkannya.
“Pervert!”geramnya
lagi, kedua telapak tangannya begitu kuat mengepal. Wajah lelaki itu… ingin
sekali ia meninju wajah lelaki itu.
Decitan
suara ban membuatnya tersadar mobil sport yang membawa Chika sudah berjalan.
Oik dengan cekatan kembali ke mobilnya dan membuntuti mobil tersebut. K…ah
bukan namanya Cakka… ya Cakka. Dialah yang membawa anaknya, ia lupa karena
Cakka bisa saja melakukan apa saja yang diinginkannya, seharusnya ia lebih
memperketat penjagaannya agar Cakka tidak bisa membawa Chika seenaknya tanpa
persetujuaannya. Walaupun Cakka meminta persetujuan untuk membawa Chikapun ia
tidak akan memberinya. Bahkan mungkin bukan cuma caci maki tapi bisa saja
ludahan dari bibir Oik.
Di
perjalan Oik mengumpat dengan semaunya, ia memperhatikan mobil di depannya
dengan tatapan api kebencian. Ia memegang setir mobil dengan geram dan menarik
pegas dengan kasar. Di depannya, tepatnya mobil yang sedang diikutinya itu,
seseorang sedang menyeringai puas.
***
Cakka
menatap malaikat kecil miliknya yang sedang berada di sampingnya dengan
tersenyum kemudian mengacak-acak rambut panjangnya. Tidak pernah ia sedekat ini
dengan Chika, ia sangat menginginkan Chika berada di sampingnya, dan mengecup
setiap jengkal kulit lembutnya. Kulit yang diturunkan Oik untuknya, Cakka tentu
hafal dengan kelembutan kulit Oik. Ya, karena memang ia pernah mencicipinya.
Tapi wajahnya… wajah itu duplikat dirinya
dalam bentuk seorang gadis kecil. Ia menginginkannya, ingin sekali, gadis kecil
itu juga miliknya, darahnya mengalir di sana, tapi penghalangnya adalah Oik.
“Panggil
Ayah yah sayang”Ucap Cakka lembut lalu mencubit gemas pipi Chika.
Kemudian Chika menoleh dengan wajah bingung.
“Kenapa?”tanyanya
polos.
“Karena
aku memang Ayahmu”
“Kata
bunda, ayahku sudah meninggal”
“Sekarang
aku ayahmu karena aku akan menikah dengan bundamu”
“Bunda
mau menikah?”
“Ya
sayang”Cakka kembali mengacak-acak rambut Chika dengan penuh cinta, hingga
membuat Chika tersenyum, merasakan sebuah cinta dari seorang ayah yang tidak
pernah ia dapatkan dari dulu. “Kita sampai”
Cakka
turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Chika lalu menggendongnya ke dalam
sebuah rumah mewah, besar, dan begitu ‘wow’ ketika orang-orang memandang.
“Hei”Oik
mencoba bersuara agar Cakka dan Chika menyadari bahwa dia hadir di sana. Tapi
Cakka berhasil membuat Chika tidak mendengar suara ibunya yang berusaha
menyuarakan diri.
“CAKKA”Oik
berusaha berteriak ketika ia sudah mulai memasuki rumah mewah milik Cakka,
suaranya yang begitu melengking menggema di mana-mana. Seketika Cakka berhenti
melangkah, Oik berlari menuju Cakka yang terpaku di tempatnya. Dengan kasar Oik
menarik Chika dari gendongan Cakka. Mau tak mau Cakka melepaskan Chika begitu
saja dengan tatapan tajam ke arah Oik. Begitupun dengan Oik, ia memberikan
tatapan lebih dari ketajaman samurai.
“Harus
gue bilang berapa kali baru lo ngerti hah?! Jangan ganggu anak gue”Kata Oik
dengan nada penekanan disetiap kata-katanya.
“Anak
kita, Oik! Lo harus terima itu, bagaimanapun juga Chika berasal dari sperma
gue” Ucap Cakka berusaha sesantai mungkin, padahal ia sendiri masih bergidik
ngeri dengan tatapan yang diberikan Oik, tidak pernah ada wanita yang
memberikannya tatapan membunuh seperti itu.
“Terserah,
gue mau pulang bawa anak gue”Oik ingin beranjak pergi namun Chika menahan
tangannya.
“Bunda,
nggak boleh marah-marah sama ayah”Seketika Oik sulit bernafas. Apa yang
dikatakan Chika membuat hatinya nyeri. Ia tak menyangka secepat itu Cakka bisa
mempengaruhi Chika. Oh, bagaimanapun juga Chika masih kecil dan itu mudah
terpengaruh oleh orang lain.
Cakka
yang juga mendengar ucapan Chika merasa hatinya seperti ditembak secara
tiba-tiba. Terkejut sekaligus kesakitan. Ia tersenyum pedih ke arah Chika yang
berusaha menatap bundanya.
Ya Tuhan, inikah anak yang sudah
kutelantarkan selama ini? hatinya begitu baik, walaupun dia belum tahu semuanya
tetapi ia berusaha mengerti. Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku begitu
jahat membiarkannya hidup tanpa seorang ayah? Pekik Cakka dalam hatinya.
Oik
berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan Chika, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Dia
bukan ayahmu sayang, ayahmu sudah meninggal, Chika tahu kan? Bunda harus bilang
berapa kali supaya kita nggak ngebahas ini lagi. Chika juga tahu kan kalau kita
ngebahas ini bunda akan nangis? Chika mau liat bunda nangis?”Oik berusaha
tenang agar tidak ada kata-kata yang membuat Chika menyadari kalau ayahnya yang
sebenarnya itu adalah Cakka.
Chika
menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa melihat bundanya menangis tapi dia
merasa ada yang tidak beres dengan bundanya “Chika nggak bilang kalau ayah
Cakka itu ayah kandung Chika, tapi katanya bunda mau nikah sama ayah Cakka jadi
Chika harus panggil Ayah” Kata-kata Chika telah membuat mata Oik membulat
sempurna.
Apa-apaan
ini? Dia mau nikahi gue seenak jidatnya aja. Geram Oik dalam
hatinya.
Cakka yang meihat
kejadian tersebut tersenyum. Ia sudah siap dengan omelan Oik yang entah sudah
berapa kali keluar dari bibir manis Oik.
Oik menatap Cakka tajam
“Kita harus bicara” Cakka hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Chika main di taman
belakang dulu ya, ayah mau bicara berdua sama bunda kamu” Chika menangguk,
Cakka segera memanggil beberapa pelayannya untuk menemani Chika bermain di
taman belakang.
“Ayah”Lirih Chika. Oik
memandang mata Chika yang sedang menatap Cakka dengan keraguan. Hatinya serasa
dicolek dengan tombak yang tajam. Kali ini matanya tidak lagi berkaca-kaca
tetapi bulir-bulir air mata yang mengganti hiasan di wajahnya. Terasa pedih
saat Chika memanggil Cakka dengan sebutan ‘Ayah’ setelah semua kejadian yang
membuat hidupnya hancur sekaligus dapat mempelajari bagaimana kerasnya
kehidupan. ‘Ayah’, sebutan itu baru kali ini Oik dengar dari mulut mungil Chika
dengan nada penuh cinta.
Apa
naluri Chika dan Cakka satu? Sehingga Chika dengan mudahnya menerima Cakka. Ya
Tuhan, apalagi rencanamu?Lirih Oik membatin pedih.
“Ayah akan ngobrol
baik-baik dengan bunda, Chika tenang aja ya sayang”Cakka berusaha setenang
mungkin dengan membelai kepala Chika dan berusaha tetap tersenyum walaupun ia
sudah ketar-ketir saja ketika dipanggil dengan sebutan ‘Ayah’ oleh anak
kandungnya sendiri. Dan kemudian Chika berlalu dibawa oleh beberapa pelayan
yang ada di rumah Cakka dengan pandangan masih dengan keraguan.
Oik terisak ketika ia
mendengar perkataan lelaki yang berada di depannya ini. Kata ‘Sayang’ yang
begitu lembut, tenang, tulus, dan penuh cinta. Ia mengucapkannya dengan
sesempurna itu, tapi apa yang telah Cakka lakukan selama ini membuat Oik sukar
memaafkannya, ia tahu bahwa Cakka sangat menyayangi Chika semua terlihat dari
sorot matanya, namun Oik tetap saja belum bisa menerimanya.
Cakka terpaku mendengar
suara isakan Oik, begitu menyayat hatinya. Entah kepedihan apa lagi yang
membuat Oik terisak begitu pedihnya seperti ini. Membuat Cakka semakin bersalah
dan serba salah. Cakka berjongkok untuk mengimbangi Oik yang juga sedang
berjongkok di hadapannya. Dihapusnya pelan air mata yang mengalir di pipi Oik.
Sentuhan itu membuat sekujur tubuh Oik menegang dengan sempurna.
“Berhentilah menangis
Oik, isakanmu begitu menyayat. Jangan sampai Chika mendengarnya”Seketika Oik
menghentikan tangisnya. Pandangannya kabur karena tertutup dengan air matanya.
Sebuah tangan menarikanya untuk bangkit dan menggiringnya kesebuah ruangan,
pandangannya masih kabur dan ia belum bisa melihat sempurna keadaan sekitarnya.
Sebuah tangan yang begitu kekar menariknya ke dalam pelukan seseorang, rasanya
seperti de javu.
“Sudah lama aku
merindukanmu dalam pelukanku, Oik. Bisakah kita tidak membahas apapun dan tetap
berada dalam posisi ini seperti 5 tahun yang lalu”Bisik Cakka tepat di telinga
Oik. Dan hembusan nafasnya bisa dirasakan Oik dengan begitu damai. Ia menjadi
tenang walaupun dengan posisi ini. Oik mengangkat tangannya dan membalas
pelukan Cakka dengan erat, ia menenggelamkan wajahnya dan mulai menangis tanpa
isakan.
Cakka membiarkan Oik
mengeksplorasikan tubuhnya agar lebih rileks saja dipelukannya, mungkin hari
ini memang hari yang melelahkan batinnya setelah bertemu lagi dengannya setelah
sekian lama ia tidak betatapan satu sama lain. Ia bisa merasakan baju bagian
bahunya yang di mana tempat Oik menenggelamkan wajahnya basah akibat air mata
Oik yang sedari tadi tidak bisa disumbatnya. Ia membiarkan Oik menangis
sepuasnya, hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa merasa tenang setelahnya.
Ada rasa yang tidak
bisa di jelaskan oleh mereka berdua. Entah rasa apa yang sedang mereka rasakan
yang pasti itu sangat mengganggu fikiran mereka hingga tidak ada satupun
diantaranya melepaskan pelukan tersebut. Cakka mengangkat tangannya untuk
membelai kepala Oik tapi setelah itu ia mengurungkannya. Ia tidak mau membuat
Oik melepaskan pelukannya hanya karena ia bertingkah agak berlebihan. Oik bisa
menerima pelukannya saja sudah membuatnya senang dan dia tidak mau kehilangan
kesempatan itu.
Oik merasa tentram
dalam pelukan itu, hingga ia tidak bisa berfikir jernih lagi dan sama sekali
tidak menyadari siapa yang sedang dipeluknya saat ini. Tapi harus bagaimana
lagi, saat ini ia sangat butuh seseorang yang dapat dijadikan sandarannya untuk
sementara. Ia terlalu lelah dengan semua ketiba-tibaan seperti hari ini.
Sampai-sampai ia lupa bagaimana caranya menarik nafas panjang untuk mengisi
paru-parunya dengan oksigen karena sedari tadi udara di sekitarnya terasa sesak
dan sukar dihirup.
Cakka makin mengeratkan
pelukannya, menghembuskan nafas panjang, dan membisikkan sesuatu kepada Oik.
“Maafkan aku Oik” Cakka tahu, harusnya ia tidak boleh berkata seperti itu
karena ia akan berhadapan lagi dengan Oik yang tajam, bukan Oik yang sekarang,
yang terlihat rapuh dan lemah. Tapi bagaimanapun juga ini adalah saat yang
tepat untuk mengucapkan beribu-ribu maaf untuk semua tindakan bodoh yang pernah
terjadi di masa lalu mereka.
Perlahan Oik melepaskan
pelukannya dan mulai menjauh. Ia baru menyadari kalau ia sekarang sedang berada
di sebuah kamar, kemana saja dia dari tadi sampai tidak menyadari sekitarnya.
“Ik, maafkan aku. Aku
terlalu bodoh saat itu, aku tidak tahu kenapa aku berusaha ingin memilikimu
saat itu, aku memang masih labil. Kumohon maafkan aku”Oik berusaha menatap
lurus ke arah Cakka dan menatap mata elangnya. Oh, rasanya Oik kembali
mengingat saat ia terpana karena mata elang Cakka pada pertama kali melihat
lelaki itu di koridor hotel beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu ya? Dan
sekarang pemilik mata elang itu datang lagi ke kehidupannya dengan rasa
bersalahnya.
“Kamu tahu? Ini adalah
sebuah dosa Cakka, seharusnya kamu tidak hanya meminta maaf kepadaku tapi juga
terhadap Tuhanmu”Ucap Oik dengan suara seraknya akibat tangisannya tadi.
Cakka melangkah maju
untuk menangkap badan Oik tapi Oik malah mundur, berusaha menghindarinya dan
akhirnya Oik tersandung karena menabrak sebuah benda keras di belakangnya yang
ternyata masterbed Cakka. Pertahanannya oleng dan ia terbaring telentang di
atas tempat tidur Cakka. Ia menatap wajah Cakka dari bawah seperti ada keraguan
yang menghampirinya.
Tanpa Oik sangka Cakka
menghempaskan tubuhnya tepat di samping badan Oik yang terbaring. Cakka
merentangkan kedua belah tangannya dan menatap langit-langit kamarnya. Dengan
berat ia menarik nafasnya. Bagaimanapun Oik harus tahu semuanya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar