Rabu, 27 Mei 2015

Baby From The Devil Part 5



             Jam telah menunjukkan pukul 09.00, waktunya Oik menjemput Chika di sekolah barunya. Tapi ia belum juga beranjank dari tempat duduknya. Ia menopangkan wajahnya dengan tumpuan siku tangannya, matanya lurus memandang ke depan, dan ada sebutir air mata yang mengalir di pipinya.
Ada apa dengan perasaan gue? Kenapa setelah ketemu bajingan itu perasaan gue jadi nggak karuan begini? Cakka, Cakka K. Nuraga…
            Oik mengerang kesal sambil menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Frustasi akan kejadian hari ini yang begitu menguak pikirannya. Ia masih terkejut dengan kehadiran seseorang yang telah membuatnya hancur selama ini, orang yang mengubah hidupnya.
            “Cukup sudah! Bastard!”geramnya lalu beranjak dari kursinya dan pergi begitu saja.
***

            Oik melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, kemarahan dalam dirinya sedang berpesta. Dan dengan sekejap langkah itu terhenti seperti di rem cakram, matanya membulat, tatapannya tajam dan menyiratkan kebencian. Bagaimana tidak, ia melihat seorang lelaki sedang menggiring Chika ke dalam sebuah mobil sport dengan riangnya anak kesayangannya itu mengikuti lelaki yang ingin dienyahkannya.
            “Pervert!”geramnya lagi, kedua telapak tangannya begitu kuat mengepal. Wajah lelaki itu… ingin sekali ia meninju wajah lelaki itu.
            Decitan suara ban membuatnya tersadar mobil sport yang membawa Chika sudah berjalan. Oik dengan cekatan kembali ke mobilnya dan membuntuti mobil tersebut. K…ah bukan namanya Cakka… ya Cakka. Dialah yang membawa anaknya, ia lupa karena Cakka bisa saja melakukan apa saja yang diinginkannya, seharusnya ia lebih memperketat penjagaannya agar Cakka tidak bisa membawa Chika seenaknya tanpa persetujuaannya. Walaupun Cakka meminta persetujuan untuk membawa Chikapun ia tidak akan memberinya. Bahkan mungkin bukan cuma caci maki tapi bisa saja ludahan dari bibir Oik.
            Di perjalan Oik mengumpat dengan semaunya, ia memperhatikan mobil di depannya dengan tatapan api kebencian. Ia memegang setir mobil dengan geram dan menarik pegas dengan kasar. Di depannya, tepatnya mobil yang sedang diikutinya itu, seseorang sedang menyeringai puas.
***
            Cakka menatap malaikat kecil miliknya yang sedang berada di sampingnya dengan tersenyum kemudian mengacak-acak rambut panjangnya. Tidak pernah ia sedekat ini dengan Chika, ia sangat menginginkan Chika berada di sampingnya, dan mengecup setiap jengkal kulit lembutnya. Kulit yang diturunkan Oik untuknya, Cakka tentu hafal dengan kelembutan kulit Oik. Ya, karena memang ia pernah mencicipinya. Tapi  wajahnya… wajah itu duplikat dirinya dalam bentuk seorang gadis kecil. Ia menginginkannya, ingin sekali, gadis kecil itu juga miliknya, darahnya mengalir di sana, tapi penghalangnya adalah Oik.
            “Panggil Ayah yah sayang”Ucap Cakka lembut lalu mencubit gemas pipi Chika.
Kemudian Chika menoleh dengan wajah bingung.
            “Kenapa?”tanyanya polos.
            “Karena aku memang Ayahmu”
            “Kata bunda, ayahku sudah meninggal”
            “Sekarang aku ayahmu karena aku akan menikah dengan bundamu”
            “Bunda mau menikah?”
            “Ya sayang”Cakka kembali mengacak-acak rambut Chika dengan penuh cinta, hingga membuat Chika tersenyum, merasakan sebuah cinta dari seorang ayah yang tidak pernah ia dapatkan dari dulu. “Kita sampai”
            Cakka turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Chika lalu menggendongnya ke dalam sebuah rumah mewah, besar, dan begitu ‘wow’ ketika orang-orang memandang.
            “Hei”Oik mencoba bersuara agar Cakka dan Chika menyadari bahwa dia hadir di sana. Tapi Cakka berhasil membuat Chika tidak mendengar suara ibunya yang berusaha menyuarakan diri.
            “CAKKA”Oik berusaha berteriak ketika ia sudah mulai memasuki rumah mewah milik Cakka, suaranya yang begitu melengking menggema di mana-mana. Seketika Cakka berhenti melangkah, Oik berlari menuju Cakka yang terpaku di tempatnya. Dengan kasar Oik menarik Chika dari gendongan Cakka. Mau tak mau Cakka melepaskan Chika begitu saja dengan tatapan tajam ke arah Oik. Begitupun dengan Oik, ia memberikan tatapan lebih dari ketajaman samurai.
            “Harus gue bilang berapa kali baru lo ngerti hah?! Jangan ganggu anak gue”Kata Oik dengan nada penekanan disetiap kata-katanya.
            “Anak kita, Oik! Lo harus terima itu, bagaimanapun juga Chika berasal dari sperma gue” Ucap Cakka berusaha sesantai mungkin, padahal ia sendiri masih bergidik ngeri dengan tatapan yang diberikan Oik, tidak pernah ada wanita yang memberikannya tatapan membunuh seperti itu.
            “Terserah, gue mau pulang bawa anak gue”Oik ingin beranjak pergi namun Chika menahan tangannya.
            “Bunda, nggak boleh marah-marah sama ayah”Seketika Oik sulit bernafas. Apa yang dikatakan Chika membuat hatinya nyeri. Ia tak menyangka secepat itu Cakka bisa mempengaruhi Chika. Oh, bagaimanapun juga Chika masih kecil dan itu mudah terpengaruh oleh orang lain.
            Cakka yang juga mendengar ucapan Chika merasa hatinya seperti ditembak secara tiba-tiba. Terkejut sekaligus kesakitan. Ia tersenyum pedih ke arah Chika yang berusaha menatap bundanya.
            Ya Tuhan, inikah anak yang sudah kutelantarkan selama ini? hatinya begitu baik, walaupun dia belum tahu semuanya tetapi ia berusaha mengerti. Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku begitu jahat membiarkannya hidup tanpa seorang ayah? Pekik Cakka dalam hatinya.
            Oik berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan Chika, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
            “Dia bukan ayahmu sayang, ayahmu sudah meninggal, Chika tahu kan? Bunda harus bilang berapa kali supaya kita nggak ngebahas ini lagi. Chika juga tahu kan kalau kita ngebahas ini bunda akan nangis? Chika mau liat bunda nangis?”Oik berusaha tenang agar tidak ada kata-kata yang membuat Chika menyadari kalau ayahnya yang sebenarnya itu adalah Cakka.
            Chika menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa melihat bundanya menangis tapi dia merasa ada yang tidak beres dengan bundanya “Chika nggak bilang kalau ayah Cakka itu ayah kandung Chika, tapi katanya bunda mau nikah sama ayah Cakka jadi Chika harus panggil Ayah” Kata-kata Chika telah membuat mata Oik membulat sempurna.
Apa-apaan ini? Dia mau nikahi gue seenak jidatnya aja. Geram Oik dalam hatinya.
Cakka yang meihat kejadian tersebut tersenyum. Ia sudah siap dengan omelan Oik yang entah sudah berapa kali keluar dari bibir manis Oik.
Oik menatap Cakka tajam “Kita harus bicara” Cakka hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Chika main di taman belakang dulu ya, ayah mau bicara berdua sama bunda kamu” Chika menangguk, Cakka segera memanggil beberapa pelayannya untuk menemani Chika bermain di taman belakang.
“Ayah”Lirih Chika. Oik memandang mata Chika yang sedang menatap Cakka dengan keraguan. Hatinya serasa dicolek dengan tombak yang tajam. Kali ini matanya tidak lagi berkaca-kaca tetapi bulir-bulir air mata yang mengganti hiasan di wajahnya. Terasa pedih saat Chika memanggil Cakka dengan sebutan ‘Ayah’ setelah semua kejadian yang membuat hidupnya hancur sekaligus dapat mempelajari bagaimana kerasnya kehidupan. ‘Ayah’, sebutan itu baru kali ini Oik dengar dari mulut mungil Chika dengan nada penuh cinta.
Apa naluri Chika dan Cakka satu? Sehingga Chika dengan mudahnya menerima Cakka. Ya Tuhan, apalagi rencanamu?Lirih Oik membatin pedih.
“Ayah akan ngobrol baik-baik dengan bunda, Chika tenang aja ya sayang”Cakka berusaha setenang mungkin dengan membelai kepala Chika dan berusaha tetap tersenyum walaupun ia sudah ketar-ketir saja ketika dipanggil dengan sebutan ‘Ayah’ oleh anak kandungnya sendiri. Dan kemudian Chika berlalu dibawa oleh beberapa pelayan yang ada di rumah Cakka dengan pandangan masih dengan keraguan.
Oik terisak ketika ia mendengar perkataan lelaki yang berada di depannya ini. Kata ‘Sayang’ yang begitu lembut, tenang, tulus, dan penuh cinta. Ia mengucapkannya dengan sesempurna itu, tapi apa yang telah Cakka lakukan selama ini membuat Oik sukar memaafkannya, ia tahu bahwa Cakka sangat menyayangi Chika semua terlihat dari sorot matanya, namun Oik tetap saja belum bisa menerimanya.
Cakka terpaku mendengar suara isakan Oik, begitu menyayat hatinya. Entah kepedihan apa lagi yang membuat Oik terisak begitu pedihnya seperti ini. Membuat Cakka semakin bersalah dan serba salah. Cakka berjongkok untuk mengimbangi Oik yang juga sedang berjongkok di hadapannya. Dihapusnya pelan air mata yang mengalir di pipi Oik. Sentuhan itu membuat sekujur tubuh Oik menegang dengan sempurna.
“Berhentilah menangis Oik, isakanmu begitu menyayat. Jangan sampai Chika mendengarnya”Seketika Oik menghentikan tangisnya. Pandangannya kabur karena tertutup dengan air matanya. Sebuah tangan menarikanya untuk bangkit dan menggiringnya kesebuah ruangan, pandangannya masih kabur dan ia belum bisa melihat sempurna keadaan sekitarnya. Sebuah tangan yang begitu kekar menariknya ke dalam pelukan seseorang, rasanya seperti de javu.
“Sudah lama aku merindukanmu dalam pelukanku, Oik. Bisakah kita tidak membahas apapun dan tetap berada dalam posisi ini seperti 5 tahun yang lalu”Bisik Cakka tepat di telinga Oik. Dan hembusan nafasnya bisa dirasakan Oik dengan begitu damai. Ia menjadi tenang walaupun dengan posisi ini. Oik mengangkat tangannya dan membalas pelukan Cakka dengan erat, ia menenggelamkan wajahnya dan mulai menangis tanpa isakan.
Cakka membiarkan Oik mengeksplorasikan tubuhnya agar lebih rileks saja dipelukannya, mungkin hari ini memang hari yang melelahkan batinnya setelah bertemu lagi dengannya setelah sekian lama ia tidak betatapan satu sama lain. Ia bisa merasakan baju bagian bahunya yang di mana tempat Oik menenggelamkan wajahnya basah akibat air mata Oik yang sedari tadi tidak bisa disumbatnya. Ia membiarkan Oik menangis sepuasnya, hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa merasa tenang setelahnya.
Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan oleh mereka berdua. Entah rasa apa yang sedang mereka rasakan yang pasti itu sangat mengganggu fikiran mereka hingga tidak ada satupun diantaranya melepaskan pelukan tersebut. Cakka mengangkat tangannya untuk membelai kepala Oik tapi setelah itu ia mengurungkannya. Ia tidak mau membuat Oik melepaskan pelukannya hanya karena ia bertingkah agak berlebihan. Oik bisa menerima pelukannya saja sudah membuatnya senang dan dia tidak mau kehilangan kesempatan itu.
Oik merasa tentram dalam pelukan itu, hingga ia tidak bisa berfikir jernih lagi dan sama sekali tidak menyadari siapa yang sedang dipeluknya saat ini. Tapi harus bagaimana lagi, saat ini ia sangat butuh seseorang yang dapat dijadikan sandarannya untuk sementara. Ia terlalu lelah dengan semua ketiba-tibaan seperti hari ini. Sampai-sampai ia lupa bagaimana caranya menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen karena sedari tadi udara di sekitarnya terasa sesak dan sukar dihirup.
Cakka makin mengeratkan pelukannya, menghembuskan nafas panjang, dan membisikkan sesuatu kepada Oik. “Maafkan aku Oik” Cakka tahu, harusnya ia tidak boleh berkata seperti itu karena ia akan berhadapan lagi dengan Oik yang tajam, bukan Oik yang sekarang, yang terlihat rapuh dan lemah. Tapi bagaimanapun juga ini adalah saat yang tepat untuk mengucapkan beribu-ribu maaf untuk semua tindakan bodoh yang pernah terjadi di masa lalu mereka.
Perlahan Oik melepaskan pelukannya dan mulai menjauh. Ia baru menyadari kalau ia sekarang sedang berada di sebuah kamar, kemana saja dia dari tadi sampai tidak menyadari sekitarnya.
“Ik, maafkan aku. Aku terlalu bodoh saat itu, aku tidak tahu kenapa aku berusaha ingin memilikimu saat itu, aku memang masih labil. Kumohon maafkan aku”Oik berusaha menatap lurus ke arah Cakka dan menatap mata elangnya. Oh, rasanya Oik kembali mengingat saat ia terpana karena mata elang Cakka pada pertama kali melihat lelaki itu di koridor hotel beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu ya? Dan sekarang pemilik mata elang itu datang lagi ke kehidupannya dengan rasa bersalahnya.
“Kamu tahu? Ini adalah sebuah dosa Cakka, seharusnya kamu tidak hanya meminta maaf kepadaku tapi juga terhadap Tuhanmu”Ucap Oik dengan suara seraknya akibat tangisannya tadi.
Cakka melangkah maju untuk menangkap badan Oik tapi Oik malah mundur, berusaha menghindarinya dan akhirnya Oik tersandung karena menabrak sebuah benda keras di belakangnya yang ternyata masterbed Cakka. Pertahanannya oleng dan ia terbaring telentang di atas tempat tidur Cakka. Ia menatap wajah Cakka dari bawah seperti ada keraguan yang menghampirinya.
Tanpa Oik sangka Cakka menghempaskan tubuhnya tepat di samping badan Oik yang terbaring. Cakka merentangkan kedua belah tangannya dan menatap langit-langit kamarnya. Dengan berat ia menarik nafasnya. Bagaimanapun Oik harus tahu semuanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar